157 Hektare Sawah Mengering, Petani Baya-Uwedikan Krisis Air

Nendra Prasetya • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 19:23 WIB
KEKERINGAN: Sekitar 157 hektare lahan pertanian warga di Desa Baya dan Uwedikan kini mengalami kekeringan akibat menurunnya debit air yang selama ini digunakan untuk mengairi persawahan.(FOTO: NENDRA PRASETYA/RADAR PALU).
KEKERINGAN: Sekitar 157 hektare lahan pertanian warga di Desa Baya dan Uwedikan kini mengalami kekeringan akibat menurunnya debit air yang selama ini digunakan untuk mengairi persawahan.(FOTO: NENDRA PRASETYA/RADAR PALU).

RADAR PALU — Kemarau berkepanjangan mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Banggai. Sekitar 157 hektare lahan pertanian warga di Desa Baya dan Uwedikan kini mengalami kekeringan akibat menurunnya debit air yang selama ini digunakan untuk mengairi persawahan.

Kondisi tersebut telah berlangsung kurang lebih dua bulan. Debit air yang semakin berkurang membuat pasokan air ke lahan pertanian tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman.

Akibat keterbatasan air, petani kesulitan mempertahankan kondisi lahan dan tanaman. Kekeringan juga mulai berdampak terhadap produktivitas pertanian warga.

Baca Juga: Cegah Lonjakan HIV/AIDS, KPAK Banggai Gandeng Organisasi Lintas Sektor

Petani mengaku kondisi sumber air saat ini jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Air yang mengalir ke area persawahan semakin sedikit, sementara kebutuhan tanaman tetap berlangsung.

“Sudah kurang lebih dua bulan air mulai berkurang. Air yang masuk ke sawah tidak seperti biasanya, sehingga kami kesulitan mengolah dan mempertahankan tanaman,” ungkap salah Saiful Bahri seorang petani.

Menurut petani, apabila kondisi tersebut terus berlangsung tanpa adanya penanganan, hasil produksi pertanian berpotensi kembali menurun. Kekhawatiran tersebut semakin besar jika musim kemarau masih berlanjut dan debit sumber air tidak kunjung meningkat.

Baca Juga: Rumah Terbakar, Kades Nipa Mengalami Kerugian Rp 1 Miliar

“Yang kami harapkan ada perhatian dari pemerintah. Kalau bisa ada solusi untuk masalah air ini, karena kalau kekeringan terus, hasil pertanian kami juga akan menurun,” ujarnya.

Kondisi ini tidak hanya menjadi persoalan bagi keberlangsungan tanaman, tetapi juga menyangkut pendapatan masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian.

Karena itu, petani berharap pemerintah segera melakukan langkah penanganan dengan melihat langsung kondisi lahan dan sumber air di wilayah tersebut. Intervensi diperlukan agar kebutuhan air untuk pertanian tetap dapat dipenuhi dan dampak kekeringan tidak semakin meluas.

Baca Juga: Lima Kades Menanti Eksekusi, Bupati Banggai Diberi Waktu 21 Hari

Masyarakat juga berharap pemerintah dapat menyiapkan solusi alternatif apabila debit sumber air terus mengalami penurunan, sehingga lahan pertanian warga tetap produktif dan risiko kerugian akibat kekeringan dapat ditekan.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
Keterbatasan air Petani kesulitan Lahan kekeringan Berdampak pada produktivitas