RADAR PALU — Pencinta Alam Dolo (PALADO) kembali melaksanakan salah satu tahapan penting dalam proses pendidikan dan pengkaderan organisasi melalui kegiatan Daki Wajib Anggota Muda Angkatan ke-V di Gunung Nokilalaki, kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Sabtu (29/8/2026).
Gunung Nokilalaki memiliki ketinggian 2.355 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sebanyak 13 Anggota Muda mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 11 laki-laki dan dua perempuan. Mereka didampingi pengurus dan sejumlah anggota senior PALADO di bawah koordinasi lapangan Imam.
Kegiatan mengangkat tema “Etika di Atas Ego Menjadi Satu Langkah Besar dalam Pembentukan Karakter Kepemimpinan.” Daki Wajib tidak hanya menjadi ajang menguji kemampuan fisik menghadapi medan pendakian, tetapi juga bagian dari proses pembentukan karakter, kedisiplinan, solidaritas dan jiwa kepemimpinan.
Baca Juga: Harmonisasi Regulasi Wajib Belajar Prasekolah Jamin Kepastian Hukum Pendidikan
Daki Wajib merupakan salah satu prasyarat bagi Anggota Muda yang masih menggunakan slayer hijau untuk menjadi Anggota Tetap PALADO dan memperoleh slayer ungu.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dituntut mengaplikasikan materi dasar yang diperoleh selama mengikuti pendidikan dan latihan dasar, baik Diksar Ruangan maupun Diksar Lapangan. Peserta juga diuji dalam menerapkan standar operasional perjalanan, mulai dari tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan hingga penyelesaian perjalanan.
Aspek mental dan fisik turut menjadi perhatian. Peserta dilatih memiliki ketahanan diri, kedisiplinan serta kemampuan bertahan hidup (survive) ketika menghadapi berbagai kondisi di alam bebas.
Baca Juga: Penerbangan Internasional China–Palu Dibuka, Imigrasi Morowali Perkuat Pengawasan WNA
Selain itu, Daki Wajib menjadi ruang pembelajaran tentang pentingnya kerja sama. Peserta dituntut membangun solidaritas, saling membantu dan menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi.
Prinsip “Etika di Atas Ego” menjadi penekanan selama perjalanan. Sebab, kemampuan individu di alam bebas tidak cukup tanpa sikap, tanggung jawab dan kemampuan bekerja dalam tim.
Peserta juga diarahkan memahami kondisi ekosistem secara langsung serta menumbuhkan kesadaran menjaga kelestarian alam sesuai Kode Etik Pecinta Alam.
Baca Juga: Disnakertrans Banggai dan UPT Pengawas Ketenagakerjaan Sulteng Awasi 5 Perusahaan di Luwuk Timur
Sebelum pendakian dimulai, seluruh peserta mengikuti prosesi pelepasan di Camp PALADO, Desa Kotapulu, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Jumat (28/8/2026).
Pelepasan dipimpin Dewan Pendiri PALADO, Tuaka Sahbib, didampingi Ketua Organisasi PALADO Muhammad Lutfi, SH, serta jajaran pengurus dan anggota senior.
Dalam arahannya, Tuaka Sahbib mengatakan Daki Wajib merupakan bagian dari proses panjang pembentukan seorang anggota PALADO.
“Daki Wajib bukan sekadar bagaimana seorang anggota mampu mencapai puncak. Yang lebih penting adalah bagaimana ia mampu menjaga etika, mengendalikan ego, bertanggung jawab terhadap dirinya dan tim, serta mampu mengambil keputusan dalam kondisi yang sulit. Di sanalah karakter dan jiwa kepemimpinan ditempa,” ujarnya.
Menurut dia, alam bebas memberikan ruang pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di dalam ruangan.
“Gunung bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Gunung mengajarkan bahwa kita saling membutuhkan. Karena itu, jangan pernah menempatkan ego pribadi di atas keselamatan, kebersamaan dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PALADO Muhammad Lutfi, SH, mengatakan proses pengkaderan di PALADO dirancang agar setiap anggota memahami bahwa status sebagai Anggota Tetap bukan sekadar simbol, tetapi juga membawa tanggung jawab terhadap organisasi, lingkungan dan masyarakat.
“Menjadi Anggota Tetap PALADO bukan hanya tentang mendapatkan slayer ungu atau Nomor Registrasi Anggota. Ada proses panjang yang harus dilalui. Setiap tahapan adalah ruang untuk menguji kemampuan, mental, sikap, kedisiplinan dan tanggung jawab seorang anggota,” kata Lutfi.
Setelah mengikuti Diksar Ruangan, Diksar Lapangan dan Daki Wajib, Anggota Muda masih harus menyelesaikan satu tahapan terakhir untuk memperoleh Nomor Registrasi Anggota (NRA).
Pada tahapan tersebut, masing-masing anggota diwajibkan melakukan perjalanan pendakian secara mandiri sesuai ketentuan organisasi, kemudian menyusun dan menyerahkan laporan perjalanan.
“Kami ingin anggota yang nantinya memperoleh NRA benar-benar memahami arti tanggung jawab. Mereka bukan hanya mampu melakukan perjalanan di alam bebas, tetapi juga mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan mempertanggungjawabkan perjalanan yang dilakukan,” jelasnya.
Lutfi berharap Angkatan ke-V dapat menjadi generasi yang mampu menjaga nama baik organisasi sekaligus meneruskan nilai-nilai kepencintaalaman yang selama ini dibangun PALADO.
PALADO berdiri sejak 1997. Hingga 2026, organisasi tersebut telah memasuki usia 29 tahun dan melakukan proses rekrutmen hingga Angkatan ke-V. Jumlah keanggotaan saat ini mencapai sekitar 150 orang, termasuk Anggota Muda yang tengah mengikuti proses pengkaderan.
Selama perjalanan organisasinya, PALADO tidak hanya berkegiatan dalam aktivitas pendakian dan olahraga alam bebas. Organisasi tersebut juga aktif dalam kegiatan lingkungan, konservasi, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, aksi kemanusiaan serta kegiatan sosial.
PALADO juga terlibat mendukung berbagai program pemerintah di sejumlah tingkatan, termasuk program Pemerintah Kabupaten Sigi “Pakagali Pakagaya Ngata.”
Eksistensi selama hampir tiga dekade menjadi bukti bahwa kepencintaalaman bagi PALADO bukan sekadar aktivitas menikmati alam. Lebih dari itu, menjadi bagian dari proses membangun manusia yang memiliki kepedulian, tanggung jawab dan kebermanfaatan bagi lingkungan serta masyarakat.
Melalui Daki Wajib Anggota Muda Angkatan ke-V, PALADO kembali menegaskan komitmennya melahirkan kader yang tidak hanya kuat menghadapi medan alam bebas, tetapi juga memiliki etika, solidaritas, disiplin, kepedulian terhadap lingkungan dan jiwa kepemimpinan.
Bagi PALADO, menaklukkan puncak bukanlah akhir perjalanan. Menaklukkan ego, menjaga etika serta bertanggung jawab terhadap sesama dan alam merupakan kemenangan yang sesungguhnya. (*)
Editor : Agung Sumandjaya