Hujan Buatan Poso Energy Disorot Warga, Diduga Jadi Pemicu Banjir di Dua Desa di Poso

Rony Sandhi • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 10:26 WIB
TERENDAM : Ruas jalan dan rumah warga di Desa Saojo Kecamatan Pamona Utara terendam banjir, Selasa (17/5/2026). (Dokumentasi Warga)
TERENDAM : Ruas jalan dan rumah warga di Desa Saojo Kecamatan Pamona Utara terendam banjir, Selasa (17/5/2026). (Dokumentasi Warga)

RADAR PALU – Banjir yang merendam dua desa di Kabupaten Poso memicu sorotan tajam dari masyarakat. Warga menduga operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan yang dilakukan PT Poso Energy menjadi salah satu pemicu meningkatnya curah hujan ekstrem hingga menggenangi permukiman dan lahan perkebunan warga.

Dua wilayah terdampak yakni Desa Saojo, Kecamatan Pamona Utara dan Desa Salukaia, Kecamatan Pamona Barat. Banjir mulai merendam rumah warga sejak Selasa (26/5/2026), dengan ketinggian air di beberapa titik dilaporkan hampir setinggi jendela rumah.

Program modifikasi cuaca yang berlangsung sejak 4 Mei hingga 2 Juni 2026 itu diketahui bertujuan menjaga pasokan air untuk operasional PLTA di kawasan Danau Poso. Namun, warga menilai dampak dari operasi tersebut justru memicu hujan berkepanjangan yang berujung banjir di sejumlah desa sekitar.

Baca Juga: Anggota DPRD Poso Miss Peuru Minta Gubernur Evaluasi PAP PT Poso Energi, Dinilai Berpotensi Rugikan Daerah

Warga mengaku harus berjaga sejak dini hari karena khawatir debit air terus meningkat. Selain merendam rumah, banjir juga disebut merusak sektor pertanian masyarakat yang menjadi sumber penghasilan utama warga.

Salah seorang warga, Melvin Kristiani, melalui unggahan di media sosial Facebook menyebut bunga durian dan alpukat milik warga rontok akibat hujan dengan intensitas tinggi yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Sementara buah kakao dilaporkan membusuk karena kelembapan berlebihan.

“Air sudah merendam rumah warga dan beberapa kebun warga di Desa Salukaia,” tulisnya.

Baca Juga: Banjir di Poso Dipicu Cuaca Ekstrem, BMKG: Awan Cumulonimbus Dominan

Keluhan serupa disampaikan Estin Rinia Todaga yang menggambarkan kondisi jalan utama desa masih tergenang hingga setinggi pinggang orang dewasa. Sejumlah kendaraan roda dua bahkan terpaksa melintas melalui jalur alternatif di pekarangan rumah warga karena khawatir mesin kendaraan rusak akibat terendam air.

“Pak Kades dan pak Sekdes membantu kendaraan yang lewat di lokasi banjir. Ada beberapa rumah terendam,” katanya.

Kritik juga diarahkan kepada Pemerintah Kabupaten Poso yang dinilai lambat merespons kondisi darurat tersebut. Warga meminta pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera turun langsung melakukan penanganan di lokasi terdampak.

Baca Juga: Hujan Deras, 60 Rumah Terendam Banjir di Poso

Selain itu, pihak PT Poso Energy juga diminta menunjukkan kepedulian terhadap warga terdampak banjir. Masyarakat menilai, selain dugaan dampak hujan buatan, wilayah terdampak juga berada di sekitar kawasan operasional perusahaan.

“Kalau ada kejadian darurat seperti ini, harusnya pemerintah Poso cepat turun ke lokasi. Tinjau masyarakatnya yang jadi korban. BPBD sudah harusnya melakukan langkah-langkah penanganan,” ujar warga lainnya, Sandy.

Sementara itu, pihak PT Poso Energy melalui Irma Suriani yang dikonfirmasi Radar Palu Jawa Pos melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan terkait dugaan dampak modifikasi cuaca tersebut.

Baca Juga: Banjir Betalemba Rendam Lahan Pertanian Warga di Kabupaten Poso

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak perusahaan maupun Pemerintah Kabupaten Poso terkait kemungkinan keterkaitan operasi modifikasi cuaca dengan banjir yang melanda dua desa tersebut. (ron)

 

 

Editor : Rony Sandhi
Poso Energy Banjir Poso Hujan Buatan Pamona BPBD Poso