RADAR PALU- Di tengah keterbatasan akses dan stigma yang masih membayangi, harapan kemandirian bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Sigi mulai tumbuh melalui Program Kelompok Usaha Bisnis Inklusif (KUBIK) yang membuka peluang usaha dan masa depan yang lebih inklusif.
Sebanyak 25 usaha baru bagi penyandang disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) di Kabupaten Sigi ditargetkan tumbuh dalam tiga tahun ke depan.
Program ini akan dilaksanakan di sembilan desa yang tersebar di Kecamatan Dolo dan Sigi Biromaru.
Target tersebut merupakan bagian dari Program (KUBIK) yang digagas KARSA Institute dengan dukungan NLR Indonesia.
Program ini menyasar pemuda disabilitas dan OYPMK berusia 18 hingga 25 tahun melalui penguatan kapasitas usaha.
Direktur Eksekutif KARSA Institute, Rahmat Saleh, mengatakan Kabupaten Sigi menunjukkan komitmen terhadap isu disabilitas, meski implementasi di lapangan masih perlu diperkuat.
“Beberapa daerah sudah memiliki perda disabilitas, tetapi belum terlihat aksi nyata. Di Sigi, sudah ada ikhtiar yang baik dan kami hadir untuk mewujudkannya dalam program konkret,” ujarnya saat pembukaan sosialisasi KUBIK 2.0, Kamis (23/4).
Program ini menjadi bagian dari inisiatif yang menyasar sekitar 1.061 penyandang disabilitas di Sigi.
Baca Juga: Tuntutan 8 Tahun Dipersoalkan, Kuasa Hukum: Kasus Chromebook Lotim Dipaksakan ke Ranah Pidana
Peserta akan mendapatkan pendampingan usaha berbasis minat, mulai dari penyusunan rencana bisnis, pelatihan keterampilan, hingga akses permodalan.
Koordinator Program KUBIK, Florensius, mengungkapkan tantangan utama terletak pada keterbatasan data, khususnya terkait OYPMK yang masih dipengaruhi stigma sosial.
Sementara itu, pemerintah daerah melalui Dinas Sosial menekankan pentingnya penguatan mental bagi penyintas kusta agar mampu beradaptasi dan tidak merasa terpinggirkan.
Melalui program ini, diharapkan terbangun kolaborasi lintas sektor guna mendorong kemandirian ekonomi kelompok rentan di Kabupaten Sigi.
Editor : Wahono.