Di balik pengakuan itu, ada sosok sepuh dari Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang hingga kini masih setia menjaga tradisi berusia ribuan tahun tersebut. Dia lah Ina Tobani (84).
Sejak lulus Sekolah Rakyat, Ina menekuni kerajinan kain kulit kayu. Pada usianya yang hampir satu abad, ia masih bekerja setiap hari memukul serat kayu hingga menjadi lembaran kain. Pekerjaan itu kini menjadi satu-satunya mata pencahariannya.
“Saya sudah tua dan tidak boleh lagi ke kebun atau sawah. Jadi saya buat kain kulit kayu untuk dijual,” tuturnya.
Hasil penjualan kain dan pakaian adat dari kulit kayu menjadi sumber hidup bagi Ina dan keluarganya. Ia juga menanggung biaya perawatan tiga anaknya yang sedang sakit. Meski hidup sederhana, Ina tetap memprioritaskan pelestarian tradisi dibanding keuntungan pribadi.
Sebagai maestro, Ina menggagas kelompok pengrajin di Desa Mataue, Kulawi. Kelompok ini rutin berkumpul untuk berlatih dan memproduksi kain kulit kayu.
Semua pelatihan yang diberikan Ina bersifat gratis. Baginya, menjaga pengetahuan leluhur lebih penting dibanding bayaran apa pun.
Lebih dari 72 tahun mengabdi, Ina Tobani menjadi representasi keteguhan budaya lokal.
Kiprahnya memastikan tradisi kain kulit kayu warisan yang diperkirakan sudah ada 4.000 tahun tetap hidup dan dikenal generasi muda. Di tangan Ina, identitas budaya Kulawi tidak sekadar dipertahankan, tetapi juga diwariskan. (*/agg)
Editor : Agung Sumandjaya