Di sudut damai Lembah Behoa, tepatnya di Desa Hanggira, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, masih hidup sebuah tradisi kuno yang menakjubkan, pembuatan baju dari kulit kayu.
Warisan leluhur ini bukan hanya simbol budaya, tetapi juga bukti ketekunan dan ketelitian dalam mempertahankan identitas lokal.
Siapa sangka, baju sederhana berbahan kulit kayu ini kini telah menembus pasar mancanegara dan bahkan menjadi koleksi museum di Prancis.
Baju kulit kayu khas Lembah Behoa memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari hasil karya serupa di daerah Kulawi dan Lembah Bada.
Setiap helai baju dihiasi dengan motif dan pernak-pernik khas Behoa, membuatnya tak hanya fungsional tetapi juga artistik.
Harga satu set lengkapnya, termasuk rok, bisa mencapai Rp2 juta — sebuah angka yang sepadan dengan proses pembuatannya yang penuh kerumitan.
Salah satu tokoh penting di balik kelestarian tradisi ini adalah Titidi Tosada, seorang pengrajin berusia 78 tahun. Meski usianya tak lagi muda, semangatnya dalam membuat baju kulit kayu tetap membara.
Ia menggunakan kulit pohon Beringin dan Bea, dua jenis pohon yang telah dikenal masyarakat setempat sebagai bahan utama yang tahan lama dan lentur.
Prosesnya tidak bisa sembarangan. Harus hati-hati sejak awal, mulai dari pengupasan hingga penjemuran. Bisa makan waktu sampai dua minggu sebelum dijahit jadi baju,” ujar Titidi saat ditemui di rumahnya.
Kulit kayu dipukul-pukul menggunakan alat tradisional bernama batu ike hingga menjadi lembaran seperti kain.
Setelah itu dijemur, dikeringkan, lalu dipotong dan dijahit sesuai pola. Proses ini bukan hanya pekerjaan tangan, melainkan seni yang diwariskan turun-temurun.
Kini, hanya segelintir orang yang mampu membuat baju ini. Titidi pun perlahan mulai mewariskan ilmunya kepada anak dan cucunya.
“Anak dan cucu saya sudah mulai belajar. Tapi memang tidak semua orang di sini bisa membuatnya, apalagi ini hanya dipakai di acara adat atau seremonial,” jelasnya.
Yang menarik, minat terhadap baju kulit kayu justru datang dari luar negeri. Seorang wisatawan asal Prancis tertarik membeli satu set untuk dipajang di museum. Ini menjadi bukti bahwa keunikan lokal punya daya tarik global.
Namun, ada tantangan besar yang kini dihadapi: keterbatasan bahan baku. Meskipun pohon Bea dan Beringin masih bisa tumbuh di tanah Lembah Behoa, kulit kayu yang bisa dipanen hanya berasal dari pohon-pohon yang cukup tua. Jika tidak dikelola dengan baik, tradisi ini bisa punah perlahan.
Titidi pun berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah. “Saya ingin baju kulit kayu ini bisa jadi kebanggaan Sulawesi Tengah. Tapi kami butuh dukungan, terutama soal pemasaran dan promosi. Jangan sampai ini hanya jadi kenangan,” tutupnya penuh harap.
Baju kulit kayu bukan sekadar pakaian, ia adalah simbol dari ketekunan, budaya, dan cinta terhadap alam. Melalui tangan-tangan seperti Titidi, Lembah Behoa berbicara pada dunia: bahwa warisan lokal bisa menjadi kebanggaan global. (**)
Editor : Wahono.