RADAR PALU — Di balik panorama pegunungan Desa Hanggira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, tersembunyi sebuah situs megalit kuno yang sarat nilai sejarah dan budaya.
Situs ini dikenal sebagai Tunduwanua, yang dalam bahasa Suku Behoa berarti kampung di atas punggung gunung.
Kawasan ini menyimpan peninggalan masa lampau berupa menhir serta struktur batu lainnya yang diyakini sebagai umpak atau tiang rumah zaman dahulu.
Situs Tunduwanua berdiri di tengah hamparan perkebunan jagung milik warga, namun akses dan pemanfaatan lahannya tetap dijaga secara turun-temurun.
Warga setempat memegang teguh kepercayaan bahwa tempat ini adalah bekas pemukiman leluhur mereka.
Menurut kisah yang diwariskan secara lisan, Tunduwanua pernah menjadi lokasi pertempuran sengit antara penduduk asli dan kelompok penyerang dari Suku lain.
"Konon pada masa perang antarsuku, perkampungan ini dikepung dan akhirnya jatuh ke tangan musuh. Penduduk yang tinggal di sana tidak berdaya, dan semua benteng pertahanan berhasil dikuasai," ujar Sunardi Pokiro, Juru Pelihara Situs Pokekea, saat memberikan penjelasan kepada peserta Festival Tampo Lore, Sabtu (28/6).
Tak hanya menhir, Tunduwanua juga menyimpan artefak unik berupa patung megalit yang telah terbelah, dikenal dengan nama Patung Huangke. Yang menarik, patung ini memiliki ciri khas berbeda dari patung lain di Lembah Behoa, terutama pada bagian mata yang berbentuk menyerupai biji padi.
“Masyarakat mempercayai bahwa patung ini menggambarkan sosok Dewi Kesyukuran, simbol dari rasa terima kasih atas hasil panen. Menurut cerita rakyat, patung ini mewakili figur perempuan,” jelas Sunardi.
Dalam tradisi lama, masyarakat sekitar memiliki ritual unik menjelang panen padi. Untuk menghindari serangan hama, mereka memasang Wewe, sejenis tali dari serat hutan, yang kemudian dibentangkan hingga ke sawah.
Tindakan ini diyakini mampu melindungi tanaman dan memastikan hasil panen yang melimpah.
Situs Megalit Tunduwanua tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga pengingat akan kearifan lokal dan spiritualitas leluhur yang menyatu erat dengan alam.
Potensi arkeologis dan budaya di kawasan ini terus dijaga agar tetap lestari dan dapat dikenalkan lebih luas kepada generasi mendatang.
Editor : Wahono.