Membaca Pidato Lintas Agama Secara Utuh: Analisis Mantiq dan Khitabah atas Pidato Prof. Dr. H. Zainal Abidin, M.Ag

Rony Sandhi • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 15:22 WIB
Prof. Zainal Abidin.(Istimewa)
Prof. Zainal Abidin.(Istimewa)

Oleh: Mansur Martam, Lc., M.Sy. Penyuluh Agama Islam

"Janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. al-Ma'idah [5]: 8)

Perdebatan mengenai pidato Prof. Dr. H. Zainal Abidin, M.Ag., Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah sekaligus Ketua MUI Kota Palu, dalam perayaan Paskah menjadi contoh menarik tentang bagaimana sebuah pidato dapat melahirkan penafsiran yang berbeda. Sebagian masyarakat mempersoalkan kutipan awal pidato yang menjelaskan makna Paskah, sementara sebagian lainnya menilai bahwa pidato tersebut harus dibaca secara utuh hingga bagian penutupnya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membela atau menyalahkan pribadi pembicara. Tujuannya adalah menawarkan cara membaca sebuah pidato berdasarkan metodologi ilmu-ilmu Islam, khususnya Mantiq, Khitabah, dan Balaghah, sehingga penilaian yang lahir benar-benar berangkat dari tradisi keilmuan Islam.

Baca Juga: Kuasa Hukum Prof Zainal Abidin: RAA Tersangka karena Dugaan Provokasi, Bukan Kritik

Mengapa Sebuah Pidato Harus Dibaca Secara Utuh?

Dalam ilmu Mantiq terdapat kaidah yang sangat terkenal:

الحكم على الشيء فرع عن تصوره

"Memberikan hukum terhadap sesuatu merupakan cabang dari pemahaman yang utuh terhadap objek yang dinilai."

Kaidah ini mengajarkan bahwa tasawwur (memahami objek secara utuh) harus mendahului tasdiq (memberikan penilaian).

Dengan kata lain, seseorang tidak dapat memberikan penilaian yang benar terhadap sebuah pidato apabila yang didengarnya hanyalah potongan-potongan kalimat yang terpisah dari keseluruhan alurnya.

Baca Juga: Kuasa Hukum Prof Zainal Abidin: RAA Tersangka karena Dugaan Provokasi, Bukan Kritik

Ironisnya, budaya media sosial justru sering membalik kaidah ini. Potongan video beberapa detik segera dijadikan dasar untuk menyimpulkan maksud pembicara, bahkan menilai keyakinannya, tanpa terlebih dahulu memahami struktur pidato secara keseluruhan.

Khitabah Memiliki Alur, Bukan Sekadar Kalimat

Dalam tradisi Khitabah, pidato dipandang sebagai satu bangunan argumentasi (bina' al-kalam), bukan kumpulan kalimat yang berdiri sendiri.

Karena itu, para ahli Balaghah menekankan pentingnya memahami siyaq al-kalam (konteks pembicaraan), maqam al-khitab (situasi penyampaian), dan muqtadla al-hal, yaitu kesesuaian antara bahasa yang digunakan dengan keadaan audiens.

Dilihat dari perspektif ini, alur pidato Prof. Zainal Abidin tampak cukup jelas.

Beliau membuka pidato dengan mengajak audiens memasuki tema Paskah melalui ungkapan, "Dan semua kita tahu...". Setelah itu beliau menjelaskan makna Paskah sebagaimana dipahami oleh umat Kristiani.

Namun pidato tidak berhenti pada uraian tersebut.

Baca Juga: Prof. Zainal Abidin: LGBT Bertentangan dengan Fitrah Manusia, Pendekatan Dakwah dan Pembinaan Jadi Solusi

Beliau kemudian mengajak umat Kristiani meneladani nilai kasih yang menjadi pesan Paskah, lalu memperluas pembahasan dengan menyatakan bahwa nilai kasih tersebut juga diajarkan oleh Islam dan agama-agama lain. Untuk menguatkan gagasan itu, beliau mengutip Al-Qur'an tentang rahmatan lil-'alamin dan menyebutkan rujukan dari kitab suci agama-agama lainnya.

Dengan demikian, apabila dilihat sebagai satu kesatuan, uraian mengenai Paskah berfungsi sebagai muqaddimah, sedangkan pesan utamanya adalah menemukan titik temu nilai-nilai kemanusiaan antarumat beragama.

Memahami Mantuq dan Mafhum

Dalam Ushul Fikih dikenal dua istilah penting, yaitu mantuq dan mafhum.

Mantuq adalah makna eksplisit suatu ucapan, sedangkan mafhum adalah makna yang dipahami melalui hubungan konteks dan keseluruhan pembicaraan.

Baca Juga: Prof Zainal Abidin Pimpin Ribuan Warga dalam Doa Bersama Lintas Agama, Ketua FKUB Sulteng : Kita Turut Merasakan Penderitaan Saudara Kita

Apabila seseorang berhenti pada sebagian mantuq tanpa memperhatikan keseluruhan siyaq al-kalam, maka kemungkinan terjadinya perbedaan penafsiran menjadi semakin besar.

Karena itu, dalam membaca pidato, keseluruhan struktur argumentasi harus menjadi dasar sebelum menarik kesimpulan.

Akidah dan Strategi Komunikasi

Membaca pidato secara utuh bukan berarti mencampuradukkan akidah Islam dengan keyakinan agama lain.

Islam telah memiliki pendirian teologis yang tegas mengenai Nabi Isa `alaihissalam, penyaliban, dan konsep keselamatan. Hal itu tidak berubah.

Namun demikian, dalam forum lintas agama, seorang pembicara sering kali memulai dari tema yang sedang diperingati oleh audiens sebelum mengarahkan mereka kepada pesan yang menjadi tujuan pidatonya.

Dalam ilmu Khitabah, pendekatan seperti ini merupakan bagian dari strategi retoris, bukan serta-merta menunjukkan bahwa pembicara sedang mengadopsi seluruh doktrin yang sedang dijelaskan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara menjelaskan suatu keyakinan, menghormati pemeluknya, dan meyakini kebenaran teologisnya. Ketiga hal tersebut bukanlah kategori yang sama.

Etika Ilmiah dalam Menilai

Perbedaan pendapat terhadap pilihan redaksi tentu merupakan hal yang wajar. Ada yang berpendapat bahwa pembicara seharusnya lebih eksplisit menggunakan frasa seperti "menurut keyakinan umat Kristiani" agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Pandangan demikian merupakan kritik akademik yang sah.

Namun berbeda halnya apabila kritik tersebut berkembang menjadi penilaian terhadap niat, keyakinan, atau status keagamaan seseorang tanpa memperhatikan keseluruhan konteks pidatonya.

Tradisi keilmuan Islam justru mengajarkan kehati-hatian dalam memahami ucapan seorang Muslim. Para ulama merumuskan kaidah:

الكلام يُحمل على أحسن المحامل ما وجد إليه سبيل

"Suatu ucapan dibawa kepada makna yang paling baik selama masih memungkinkan."

Kaidah ini bukan berarti menutup ruang kritik, tetapi mengajarkan agar kritik dilakukan secara adil, proporsional, dan berdasarkan pemahaman yang utuh.

Perdebatan mengenai pidato lintas agama sesungguhnya memberikan pelajaran penting tentang adab berpikir dalam Islam. Sebelum memberikan penilaian, seseorang harus terlebih dahulu membangun tasawwur yang utuh terhadap objek yang dinilai. Setelah itu barulah dilakukan tasdiq secara ilmiah.

Begitu pula dalam membaca sebuah pidato. Yang dinilai bukan hanya satu kalimat, melainkan keseluruhan bina' al-kalam, dengan mempertimbangkan siyaq, maqam, dan tujuan komunikasi yang ingin dicapai.

Dalam konteks inilah, membaca pidato secara utuh bukan sekadar tuntutan metodologi komunikasi modern, tetapi juga merupakan bagian dari tradisi intelektual Islam yang telah lama diajarkan oleh para ulama melalui disiplin Mantiq, Balaghah, Khitabah, dan Ushul Fikih. 

Dengan pendekatan tersebut, kritik tetap dapat disampaikan secara objektif, sementara keadilan dalam menilai tetap terjaga sebagaimana diperintahkan oleh Al-Qur'an.(***)

Editor : Rony Sandhi
MUI Kota Palu Pidato Lintas Agama Mansur Martam Zainal Abidin FKUB Sulawesi Tengah