Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Studi SSI Ungkap Citra Prabowo di Media Sosial, Komunikasi Pemerintah Dinilai Masih Terpusat

Rony Sandhi • Jumat, 3 Juli 2026 | 16:41 WIB
Presiden Prabowo Subianto.(Setnag.go.id)
Presiden Prabowo Subianto.(Setnag.go.id)

RADAR PALU – Sintesa Strategi Indonesia (SSI) melalui platform monitoring digital Datalinker merilis hasil penelitian mengenai persepsi publik terhadap Presiden Prabowo Subianto di ruang digital. Hasil kajian menunjukkan citra Presiden masih didominasi sentimen positif, meski komunikasi pemerintahan dinilai masih sangat bertumpu pada figur kepala negara.

Penelitian dilakukan melalui pemantauan percakapan di platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, serta media online selama periode 5 Juni hingga 2 Juli 2026. Data dikumpulkan menggunakan metode keyword-based crawling, kemudian diproses melalui seleksi relevansi, penghapusan data ganda, klasifikasi berbasis kecerdasan artifisial, dan validasi oleh tim peneliti.

Hasil penelitian menunjukkan sekitar 71 persen percakapan mengenai Presiden Prabowo berlangsung di media sosial, sementara 29 persen berasal dari media online. Temuan ini menunjukkan pembentukan persepsi publik terhadap Presiden lebih banyak terjadi melalui interaksi pengguna media sosial dibanding pemberitaan media daring.

Baca Juga: Dari Leok I untuk Indonesia:  Buol Tanam Kedelai Dukung Swasembada Pangan Prabowo

Dari sisi sentimen, citra Presiden Prabowo masih didominasi sentimen positif sebesar 41,5 persen. Sentimen negatif tercatat 13,8 persen, sedangkan sisanya merupakan percakapan bernada netral.

Meski demikian, SSI menilai angka sentimen positif tersebut belum mencapai mayoritas absolut karena masih berada di bawah 50 persen. Di sisi lain, analisis terhadap nada percakapan memperlihatkan bahasa kritis mencapai sekitar 17 persen, lebih tinggi dibanding percakapan yang bersifat kontra sebesar 14,3 persen maupun sentimen bermuatan emosi negatif sebesar 13,8 persen.

"Kondisi ini menunjukkan kritik yang berkembang lebih banyak diarahkan pada kebijakan, implementasi program, dan dinamika pemerintahan dibandingkan penolakan langsung terhadap figur Presiden," demikian kesimpulan penelitian tersebut.

Baca Juga: Usai Dicopot Prabowo, Eks Kepala BGN dan Dua Wakilnya Langsung Ditahan Kejagung

SSI juga mencatat dinamika sentimen sepanjang periode penelitian. Pada awal Juni, percakapan publik lebih banyak dipengaruhi isu pembahasan RUU Polri, RAPBN, serta kondisi ekonomi nasional yang memunculkan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Memasuki pertengahan periode penelitian, sentimen mulai membaik setelah pemerintah aktif menyampaikan perkembangan investasi nasional dan optimisme ekonomi melalui berbagai kementerian.

Puncak sentimen positif terjadi menjelang akhir periode penelitian ketika Presiden Prabowo menghadiri Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo serta membuka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026. Meski demikian, kritik terhadap gaya komunikasi dan pidato Presiden tetap muncul di media sosial.

Baca Juga: Teddy Jawab Kritik Dino Pati Djalal soal Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Singgung Masa Jabatan Wamenlu

Penelitian juga menyoroti kontribusi para pembantu Presiden dalam membentuk citra pemerintahan. Dari total lebih dari 231 juta paparan konten mengenai Presiden Prabowo, kurang dari 20 persen yang secara langsung berkaitan dengan nama Wakil Presiden maupun para menteri.

SSI membagi anggota kabinet ke dalam tiga kelompok berdasarkan tingkat eksposur. Kelompok dengan eksposur tertinggi (Tier 1) terdiri atas Gibran Rakabuming Raka, Bahlil Lahadalia, Nanik, Letkol Teddy, dan Purbaya. Sementara Tier 2 dihuni Qodari, Amran Sulaiman, Fadli Zon, Prasetyo Hadi, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dalam kelompok Tier 1, Bahlil Lahadalia menjadi tokoh dengan kontribusi sentimen positif terbesar terhadap citra Presiden, yakni 40,1 persen. Posisi berikutnya ditempati Gibran Rakabuming Raka dengan 31,5 persen dan Letkol Teddy sebesar 24,1 persen.

Baca Juga: Dino Patti Djalal Soroti Frekuensi Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Usulkan Diplomasi Lebih Hemat dan Efektif

Sebaliknya, Gibran menjadi figur dengan kontribusi sentimen negatif terbesar, yakni 25,9 persen, disusul Letkol Teddy sebesar 15,2 persen dan Purbaya sebesar 9,5 persen.

Sementara pada kelompok Tier 2, Qodari mencatat sentimen positif tertinggi sebesar 73,3 persen, diikuti Fadli Zon sebesar 50 persen dan AHY sebesar 46,2 persen. Pada kelompok ini, SSI tidak menemukan sentimen negatif yang signifikan karena percakapan lebih banyak didominasi sentimen positif dan netral.

SSI menyimpulkan bahwa komunikasi pemerintahan masih sangat terpusat pada Presiden Prabowo. Karena itu, diperlukan peran yang lebih aktif dari Wakil Presiden, para menteri, dan institusi pemerintah dalam memperkuat komunikasi publik agar beban pembentukan persepsi tidak hanya bertumpu pada Presiden seorang diri. (*/ron) 

Editor : Rony Sandhi
#Prabowo Subianto Sintesa Strategi Indonesia Kabinet Prabowo Sentimen Publik Media Sosial