Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Morowali Dinilai Punya Masa Depan Cerah di Sektor Pariwisata

Agung Sumandjaya • Rabu, 17 Juni 2026 | 21:22 WIB
Kepala Dinas Pariwisata Sulteng, Diah Agustiningsih. (Annisa Wibdy/Radar Palu)
Kepala Dinas Pariwisata Sulteng, Diah Agustiningsih. (Annisa Wibdy/Radar Palu)

RADAR PALU – Kabupaten Morowali selama ini identik sebagai salah satu pusat industri pengolahan nikel terbesar di Indonesia. Deretan smelter, kawasan industri modern, dan aktivitas pertambangan yang terus berkembang telah menjadikan daerah ini sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional.

Namun di balik pesatnya geliat industri tersebut, tersimpan potensi lain yang tak kalah menjanjikan. Sektor pariwisata dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah, Diah Agustiningsih, menilai pengembangan pariwisata di Morowali dapat menjadi strategi diversifikasi ekonomi yang mampu membuka lebih banyak ruang usaha bagi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Baca Juga: Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Pesisir Pantai Talise, Polisi Lakukan Penyelidikan

Potensi tersebut didukung oleh tren pertumbuhan sektor pariwisata di Sulawesi Tengah. Berdasarkan data tahun 2024, jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Sulawesi Tengah mencapai sekitar 9,33 juta perjalanan atau meningkat 48,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Pariwisata memiliki efek berganda bagi sektor transportasi, kuliner, perhotelan, ekonomi kreatif, hingga UMKM," tulis Diah melalui pesan WhatsApp, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, meski struktur ekonomi Morowali saat ini masih didominasi sektor industri pengolahan dan pertambangan, pariwisata dapat hadir sebagai sektor pendukung yang memperluas sumber pendapatan masyarakat.

Baca Juga: Pascagempa Sigi, Kodam XXIII/Palaka Wira Kirim 150 Prajurit ke Wilayah Terdampak

Peluang itu terbuka melalui berbagai usaha berbasis masyarakat seperti kuliner lokal, kerajinan tangan, homestay, jasa transportasi wisata, hingga penyelenggaraan kegiatan budaya dan komunitas.

Di kawasan yang berkembang sebagai pusat industri, sejumlah jenis wisata juga dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan. Mulai dari wisata bahari yang memanfaatkan garis pantai dan pulau-pulau kecil, wisata mangrove dan ekowisata pesisir, wisata budaya berbasis kearifan lokal, hingga wisata edukasi atau industrial tourism.

"Model pengembangan ini dapat menjadi pelengkap aktivitas industri sekaligus memperkuat identitas daerah," ungkapnya.

Baca Juga: RSUD Torabelo Rawat 14 Korban Gempa Sigi, Pasien Dievakuasi ke Tenda Darurat

Meski demikian, pengembangan sektor pariwisata tidak dapat dilepaskan dari aspek keberlanjutan lingkungan. Diah menegaskan bahwa keseimbangan antara pertumbuhan industri dan pelestarian lingkungan menjadi syarat utama agar sektor wisata dapat berkembang dalam jangka panjang.

Pemerintah daerah, kata dia, terus mendorong penguatan dokumen lingkungan, penataan ruang antara kawasan industri dan kawasan wisata, rehabilitasi mangrove serta kawasan pesisir, hingga pemberdayaan masyarakat di sekitar destinasi wisata.

"Kualitas lingkungan menjadi faktor utama daya tarik wisata. Karena itu pengembangan industri perlu diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang baik," jelasnya.

Selain persoalan lingkungan, tantangan lain yang masih dihadapi adalah promosi destinasi yang belum optimal. Morowali dinilai membutuhkan strategi branding yang lebih kuat agar potensi wisatanya semakin dikenal di tingkat nasional.

Keterbatasan konten promosi berkualitas serta belum maksimalnya kolaborasi antara pemerintah, industri, pelaku wisata, dan UMKM juga menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperkuat.

"Karena itu kami butuh strategi promosi yang lebih agresif melalui media digital, event daerah, kemitraan industri, dan jaringan pariwisata nasional," tambahnya.

Dalam ekosistem pariwisata daerah, UMKM disebut sebagai tulang punggung utama yang berperan menyediakan kuliner khas, suvenir dan kerajinan lokal, homestay, jasa transportasi, hingga atraksi budaya.

Untuk memperkuat peran masyarakat, Dispar Sulteng terus mengembangkan desa wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) melalui pendekatan Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat didorong menjadi pelaku utama pengelolaan destinasi, mulai dari pemandu wisata, pengelola homestay, pelaku UMKM, hingga penggerak atraksi budaya lokal.

Berbagai pelatihan dan pendampingan juga terus dilakukan guna meningkatkan kemampuan pengelolaan destinasi, pelayanan wisatawan, serta pengembangan produk ekonomi kreatif.

Ke depan, sejumlah potensi wisata baru mulai dipetakan untuk dikembangkan. Di antaranya ekowisata mangrove di kawasan Padabaho, wisata bahari di wilayah Bahodopi dan Bete-Bete, wisata budaya masyarakat pesisir dan pedalaman, hingga geowisata dan wisata petualangan berbasis alam.

Dispar Sulteng berharap keberadaan industri besar di Morowali, termasuk kawasan industri IMIP, dapat ikut mendukung pengembangan sektor pariwisata melalui pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, penguatan UMKM, promosi bersama, serta penerapan prinsip-prinsip lingkungan yang berkelanjutan.

Dengan sinergi tersebut, Morowali diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri nasional, tetapi juga tumbuh menjadi destinasi wisata unggulan yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.

"Bagi Morowali, pariwisata bukan hanya sektor pelengkap, tetapi menjadi instrumen untuk menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di tengah pesatnya pertumbuhan industri," tulis Diah sebagai penutup. (cr3)

Editor : Agung Sumandjaya
#Dispar Sulteng #Pariwisata #morowali #IMIP