Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Habib Bugak Asyi dan Wakaf Haji Aceh yang Bertahan 2 Abad

Muhammad Awaludin • Minggu, 17 Mei 2026 | 07:41 WIB
Ilustrasi kawasan aset Wakaf Baitul Asyi di sekitar Masjidil Haram, Makkah
Ilustrasi kawasan aset Wakaf Baitul Asyi di sekitar Masjidil Haram, Makkah

 

RADAR PALU - Nama Habib Bugak Asyi kembali ramai dibicarakan setelah ribuan jemaah haji Aceh menerima dana manfaat Wakaf Baitul Asyi di Makkah. Sosok ulama dan saudagar asal Aceh itu dikenal sebagai pewakaf yang meletakkan fondasi bantuan bagi jemaah Aceh sejak lebih dari dua abad lalu. 

Wakaf tersebut hingga kini masih aktif dan terus berkembang. Manfaatnya bahkan masih dirasakan langsung oleh jemaah haji asal Aceh yang datang ke Tanah Suci setiap tahun. 

Habib Bugak Asyi memiliki nama lengkap Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi. Ia berasal dari wilayah Bugak, Kabupaten Bireuen, Aceh. Dalam sejarah masyarakat Aceh, ia dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap kebutuhan jemaah haji di Makkah. 

Baca Juga: Jemaah Haji Tersesat di Makkah? Nomor Ini Jadi Kunci Pulang

Pada tahun 1224 Hijriah atau sekitar 1809 Masehi, Habib Bugak Asyi mewakafkan hartanya di hadapan Hakim Mahkamah Syariah Makkah. Wakaf itu kemudian dikenal dengan nama Wakaf Baitul Asyi. 

Kisah di Balik Wakaf Baitul Asyi 

Wakaf Baitul Asyi awalnya diperuntukkan bagi jemaah asal Aceh yang menunaikan ibadah haji di Makkah. Saat itu, perjalanan haji memerlukan waktu panjang dan biaya besar, sehingga keberadaan tempat tinggal bagi jemaah menjadi sangat penting. 

Melalui wakaf tersebut, jemaah Aceh mendapat hak untuk tinggal secara gratis di aset wakaf yang berada di sekitar Masjidil Haram. Tradisi itu berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari sejarah haji masyarakat Aceh. 

Baca Juga: Tangis Haru Iringi Keberangkatan Perdana Calon Jamaah Haji Sulteng ke Balikpapan

Seiring perkembangan kawasan Makkah, aset wakaf itu ikut berkembang menjadi bangunan modern bernilai tinggi. Saat ini, aset Wakaf Baitul Asyi diperkirakan bernilai lebih dari 200 juta Riyal atau sekitar Rp5,2 triliun. 

Beberapa aset strategis yang dikenal publik antara lain Hotel Ajyad dan Menara Ajyad. Kedua bangunan itu berada tidak jauh dari Masjidil Haram dan memiliki kapasitas ribuan orang.

Karena pengelolaan hotel kini dilakukan secara komersial, manfaat wakaf diberikan dalam bentuk dana kompensasi kepada jemaah Aceh. Dana tersebut berasal dari keuntungan pengelolaan aset wakaf. 

Nazir Wakaf Baitul Asyi, Dr. Syaikh Abdul Latif Muhammad Baltu, menyebut pengelolaan wakaf terus dijaga agar manfaatnya tetap dirasakan warga Aceh yang datang berhaji. 

“Wakaf ini dijaga oleh Allah dan Kerajaan Arab Saudi. Sebagai pihak yang diberi amanah, kami terus menyalurkan hak ini kepada mereka yang layak menerimanya, yakni warga Aceh yang datang berhaji,” ujar Syaikh Baltu kepada Media Center Haji di Makkah. 

Wakaf yang Masih Dirasakan Jemaah Aceh

Pada musim haji 1447 H/2026 M, sebanyak 5.426 jemaah Aceh menerima dana manfaat sebesar 2.000 Riyal atau sekitar Rp9,2 juta per orang. Total dana yang dibagikan mencapai 11,2 juta Riyal. 

Program pembagian dana tunai ini telah berjalan selama 11 tahun terakhir. Total akumulasi manfaat yang disalurkan disebut telah mencapai lebih dari 100 juta Riyal. 

Bagi masyarakat Aceh, Wakaf Baitul Asyi bukan hanya soal bantuan finansial. Wakaf ini juga menjadi simbol hubungan panjang antara Aceh dan Tanah Suci yang sudah terjalin sejak ratusan tahun lalu. 

Kisah Habib Bugak Asyi pun terus dikenang sebagai contoh bagaimana sebuah wakaf dapat memberi manfaat lintas generasi. Di tengah perubahan zaman dan perkembangan kota Makkah, amanah yang ditinggalkan lebih dari dua abad lalu itu masih tetap hidup hingga sekarang.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Habib Bugak Asyi #Wakaf Baitul Asyi #Jemaah Aceh #haji Makkah #sejarah Aceh