Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Psikolog Ungkap Dampak Pelecehan Seksual pada Remaja, Trauma Bisa Ganggu Prestasi hingga Mental

Muhammad Awaludin • Jumat, 8 Mei 2026 | 18:53 WIB
Reza Malik Akbar menjelaskan dampak psikologis pelecehan seksual terhadap remaja saat diwawancarai Radar Palu, Jumat (8/5/2026). Annisa Wibdy/RADAR PALU)
Reza Malik Akbar menjelaskan dampak psikologis pelecehan seksual terhadap remaja saat diwawancarai Radar Palu, Jumat (8/5/2026). Annisa Wibdy/RADAR PALU)

 

RADAR PALU – Kasus pelecehan seksual yang menimpa remaja dinilai dapat meninggalkan dampak psikologis serius dan berkepanjangan apabila tidak segera ditangani. 

Trauma akibat tindakan tersebut bukan hanya memengaruhi kondisi mental korban, tetapi juga dapat berdampak terhadap prestasi akademik, hubungan sosial, hingga perkembangan kepribadian korban di masa depan. 

Psikolog Klinis RSUD Undata, Reza Malik Akbar mengatakan masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan identitas, rasa aman, dan kepercayaan diri seseorang. 

Karena itu, ketika seorang remaja mengalami pelecehan seksual, dampaknya dapat membekas dalam jangka panjang. 

“Pelecehan seksual pada remaja dapat menimbulkan dampak psikologis yang sangat serius, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Korban bisa mengalami rasa takut, malu, cemas, marah, kehilangan rasa aman, hingga menurunnya harga diri,” ujar Reza saat diwawancarai Radar Palu, Jumat (8/5/2026). 

Menurutnya, korban juga dapat mengalami depresi, trauma berkepanjangan, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri. 

Kondisi tersebut muncul karena korban merasa rasa percaya terhadap lingkungan dan orang lain telah rusak akibat pengalaman yang dialami. 

Ia menjelaskan pada usia remaja, seseorang sedang berada dalam tahap mencari jati diri dan membangun rasa percaya terhadap lingkungan sekitar. 

Ketika pelecehan seksual terjadi pada fase tersebut, rasa aman dan kepercayaan diri korban dapat terganggu secara mendalam. 

“Korban sering merasa dirinya tidak aman lagi. Ada juga yang menjadi takut bertemu orang lain, sulit percaya kepada lingkungan sekitar, bahkan merasa dirinya bersalah padahal yang terjadi sepenuhnya merupakan tindakan pelaku,” jelasnya. 

Selain berdampak pada kondisi mental, trauma psikologis juga dapat memengaruhi prestasi sekolah maupun olahraga korban. 

Menurut Reza, korban pelecehan seksual sering mengalami gangguan konsentrasi, kehilangan motivasi, hingga ketidakstabilan emosi yang akhirnya memengaruhi aktivitas sehari-hari. 

“Trauma psikologis dapat memengaruhi konsentrasi, motivasi, daya ingat, dan kestabilan emosi remaja. Akibatnya, prestasi akademik dapat menurun karena korban sulit fokus belajar, mudah cemas, atau kehilangan semangat mengikuti aktivitas sekolah,” katanya. 

Dalam lingkungan olahraga, trauma juga dapat membuat korban kehilangan rasa nyaman saat berada di tempat latihan maupun ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. 

Akibatnya, performa dan perkembangan korban sebagai atlet ikut terganggu. 

“Korban bisa mengalami penurunan performa karena rasa takut, tidak nyaman berada di lingkungan latihan, kehilangan kepercayaan diri, atau bahkan menghindari aktivitas yang sebelumnya mereka sukai,” ungkapnya. 

Reza menjelaskan terdapat sejumlah tanda yang dapat dikenali ketika seorang remaja mengalami trauma psikologis akibat pelecehan seksual. 

Tanda tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau kesedihan, tetapi juga dapat terlihat dari perubahan perilaku korban sehari-hari. 

“Beberapa tanda yang sering muncul antara lain perubahan perilaku yang mendadak, mudah menangis, lebih pendiam, mudah marah, cemas berlebihan, sulit tidur, mimpi buruk, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari,” ujarnya. 

Korban juga dapat terlihat takut bertemu orang tertentu, menghindari tempat tertentu, mengalami penurunan prestasi, lebih sering melamun, hingga sulit berkonsentrasi. 

Menurut Reza, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat memengaruhi perkembangan mental korban dalam jangka panjang apabila tidak mendapatkan pendampingan yang tepat. 

Karena itu, ia menilai dukungan psikologis sejak awal sangat penting agar korban memiliki ruang aman untuk memproses pengalaman traumatis yang dialami. 

“Korban membutuhkan ruang yang aman untuk memproses pengalaman traumatisnya. Psikolog membantu korban memahami emosinya, mengurangi dampak trauma, membangun kembali rasa aman, dan memulihkan kepercayaan diri korban secara bertahap,” katanya. 

Selain itu, Reza juga mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman agar korban berani berbicara dan melapor tanpa takut dihakimi. 

Ia menilai budaya menyalahkan korban masih menjadi salah satu alasan banyak korban memilih diam. 

“Korban perlu diyakinkan bahwa mereka tidak salah dan tidak sendirian. Hindari menyalahkan, meragukan cerita korban, atau memaksa korban bercerita secara detail sebelum siap,” jelasnya. 

Menurutnya, tanggung jawab pelecehan seksual sepenuhnya berada pada pelaku, bukan korban. 

“Masyarakat perlu memahami bahwa tanggung jawab pelecehan seksual sepenuhnya ada pada pelaku, bukan korban. Cara berpakaian, aktivitas korban, atau keberadaan korban di suatu tempat tidak pernah menjadi pembenaran terhadap tindakan pelecehan seksual,” tegasnya. 

Reza berharap keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat dapat bersama-sama menciptakan ruang yang aman bagi anak dan remaja agar kasus kekerasan seksual dapat dicegah sejak dini. 

Ia juga menekankan pentingnya edukasi mengenai batasan tubuh dan keberanian mengatakan “tidak” terhadap perilaku yang membuat tidak nyaman. 

“Pencegahan bukan hanya tanggung jawab remaja putri, melainkan tanggung jawab bersama untuk menciptakan ruang yang aman dan sehat bagi anak dan remaja,” tutupnya.*** 

 

Editor : Muhammad Awaludin
#Kesehatan Mental Remaja #Trauma Psikologis #RSUD Undata #psikolog Palu #Pelecehan seksual