RADAR PALU - Ekspansi bisnis Anthoni Salim di Filipina kembali menjadi sorotan publik setelah beredar infografis yang memetakan jaringan investasinya di sektor strategis.
Pengusaha yang dikenal sebagai pemilik Indofood di balik merek Indomie ini disebut memperluas pengaruhnya melalui perusahaan investasi berbasis Hong Kong, First Pacific. Lewat entitas tersebut, Salim Group masuk ke berbagai lini infrastruktur penting di Filipina.
Dalam peta bisnis Anthoni Salim di Filipina, strategi yang digunakan bukan ekspansi langsung, melainkan melalui kepemilikan saham berlapis.
Baca Juga: Kajagung RI Dijadwalkan Kunker ke Sulteng, Tinjau Sejumlah Kejari dan Beri Pengarahan Internal
Salim Group diketahui memiliki sekitar 45 persen saham First Pacific, yang kemudian mengendalikan Metro Pacific Investments Corporation (MPIC) sebagai kendaraan utama investasi di negara tersebut.
Informasi yang beredar tersebut, dilansir dari Instagram @gojo.ether mengungkapkan, jaringan bisnis Salim menjangkau sektor-sektor vital. Di bidang kelistrikan, MPIC memiliki porsi signifikan di Manila Electric Company (Meralco), yang menjadi distributor listrik utama di Metro Manila dan sekitarnya.
Selain itu, di sektor air bersih, keterlibatan terlihat melalui Maynilad Water Services yang melayani jutaan pelanggan di kawasan perkotaan. Sementara di sektor transportasi, Metro Pacific Tollways Corporation (MPTC) mengelola sejumlah ruas jalan tol utama di Filipina.
Baca Juga: Sinergi Kemenkum Sulteng dan BI, Dorong Layanan Hukum KI dan AHU untuk UMKM
Ekspansi juga mencakup sektor telekomunikasi melalui kepemilikan saham di PLDT, salah satu operator terbesar di Filipina. Model bisnis ini diperkuat dengan kehadiran tokoh lokal, Manuel V. Pangilinan, yang menjadi figur penting dalam operasional berbagai perusahaan tersebut.
Perluasan bisnis Anthoni Salim di Filipina tidak terjadi secara instan. Momentum utamanya berlangsung saat Filipina melakukan privatisasi besar-besaran pada era 1990-an hingga awal 2000-an. First Pacific memanfaatkan peluang tersebut dengan mengakuisisi sejumlah aset strategis yang sebelumnya dikelola pemerintah.
Meski kerap disebut sebagai “penguasaan”, sejumlah pengamat menilai istilah tersebut perlu dipahami secara proporsional. Salim Group tidak menguasai negara secara keseluruhan, melainkan memiliki pengaruh kuat di sektor-sektor tertentu yang berkaitan dengan infrastruktur publik.
Dengan fokus pada sektor berkarakter kebutuhan dasar seperti listrik, air, dan jalan tol, strategi ini dinilai mampu menciptakan arus pendapatan jangka panjang sekaligus memperkuat posisi bisnis di kawasan Asia Tenggara.***
Editor : Muhammad Awaludin