Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Gubernur Sulteng: OPD Mesti terbiasa Menyusun Program Berbasis Data, Money Follow Program Menjadi Paradigma

Muchsin Siradjudin • Sabtu, 2 Mei 2026 | 16:12 WIB
RAKOR: Suasana pembukaan rakor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah, Kamis (30/4/2026).(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
RAKOR: Suasana pembukaan rakor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah, Kamis (30/4/2026).(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Hasanuddin Atjo *) 

GUBERNUR Sulawesi Tengah, diwakili wakil gubernur, Reny Lanadjido  secara resmi  membuka rapat koordinasi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Kamis, 30/4/2026 bertempat di aula Dinas TPH 

Gubernur dalam sambutannya mengemukakan bahwa tiga  pilar utama yang menentukan capaian target 9 Berani yaitu  data valid, digitalisasi serta Inovasi-teknologi. Ini hal yang paling sering diingatkan oleh bapak Gubernur Anwar Hafid imbuh wakil Gubernur Reny Lamadjido.

Budaya menggunakan  data valid harus dibangun dalam menyusun program. Data bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi penentu keberhasilan atau kegagalan dari program 9  Berani.

Baca Juga: Standarisasi Drone Pertanian Digenjot, Kemenperin Perkuat Daya Saing Industri Alsintan

Tanpa data valid, penyusunan program diibaratkan ,"berjalan  dikegelapan tanpa kompas". Dan sudah dipastikan  akan terjadi pemborosan anggaran, inefisiensi,  sehingga target  kinerja tidak akan tercapai.

Selain tiga pilar, pendekatan menyusun perencanaan mesti berubah  dari money follow fuction menjadi money follow program.  Dan perubahan ini menjadi salah tantangan pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Money follow program, salah satu cirinya alokasi anggaran berdasarkan skala program prioritas.  Tidak dibagi habis seperti pendekatan money follow fuction yang saat ini dinilai masih terlihat dipakai sebahagian OPD.

Baca Juga: Kementan Dorong Ekonomi Karbon, Pertanian Dibidik Jadi Sumber Cuan Baru

Dmpak perubahan paradigma ini, OPD/bidang/UPTD dengan terpaksa  anggarannya mesti dipangkas.. Dengan  harapan kinerja dari program prioritas (9 Berani) berpeluang untuk dicapai, dan dinikmati petani maupun  nelayan.

Target kinerja money follow program adalah berbasis outcome (manfaat), tidak lagi  output yang berorientasi  pada target pertanggungjawaban. Ini tantangan yang mestinya segera dibenahi, jika ingin keluar area "ketertinggalan"

Money follow program itu  menuntut data yang valid. Selain itu berbasis digital agar sinkronisasi program  dengan mudah dan cepat dilakukan. Inovasi, kolaborasi menjadi pelengkap paradigma ini.

Baca Juga: Pertanian Jadi Kunci Ekonomi Karbon, Ini Dampaknya ke Petani

Rakor kali ini menggambarkan money follow program menjadi paradigma. Ada sinkronisasi program antarOPD.  Terlihat  narasumber antara lain Kepala Bappeda, Kadis TPH  dan Kadis Cipta Karya dan Sumber Daya Air. Pertanian tidak bisa berkembang tanpa dukungan ketersediaan air yang cukup.

Inovasi juga tergambar pada acara rakor.  Wakil Gubernur secara resmi  melaunching inovasi  SI - Giling, berupa aplikasi memberi kemudahan terkait informasi keberadaan penggilingan, kebutuhan dan harga gabah. Ini memberi kemudahan bagi petani.

Dalam konteks Berani Makmur pendekatan  money follow program adalah  peningkatan produktifitas  padi dari 3 ton menjadi 6 ton/ha/tahun. Target  tidak sampai disitu., mesti tercipta value  (nilai tambah).

Baca Juga: Jembatan Lembobelala Dorong Ekonomi Pertanian Warga Morowali Utara

Antara lain meningkatnya NTP (nilai tukar petani) sebagai salah satu  ukuran melihatt kesejahteraan petani-nelayan yang selama ini tergolong masih rendah dan mengalami penurunan.

Dampak lebih luas lagi adalah meningkatnya kontribusi sub sektor TPH  terhadap  PDRB sektor Pertanian (Pertanian, Perikanan dan Kehutanan), yang dalam 10 tahun terakhir terus turun digeser oleh sektor industri pengolahan (nikel) dan sektor galian tambang.

Kontribusi sektor Pertanian,  terhadap Pertumbuhan PDRB tahun 2025 (BPS Sulteng 2026 ) masih sebesar 12, 90 persen dengan nilai 28,6 triliun rupiah, menyerap tenaga kerja 750 ribu orang  atau 45 persen dari angkatan kerja.

Baca Juga: Sulteng–Sichuan Bahas Kawasan Industri Pertanian, Durian Jadi Pintu Masuk Ekspor Langsung

Terakhir, subsektor tergabung dalam sektor pertanian mesti didorong sebagai salah satu lokomotif ekonomi di Sulteng. Karena sektor ini tidak ada habisnya dan terus menjadi kebutuhan pokok serta bisa menjadi penampung tenaga kerja.

Budaya menyusun program berbasis data, digitalisasi dan inovatif serta diikuti dengan paradigma money follow program menjadi kata kunci. SEMOGA.

 

*) Penulis adalah Komisi Penyuluhan Pertanian.

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Rakor pertanian #Dinikmati petani dan nelayan #Sembilan berani #sulawesi tengah