Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Hari Malaria Sedunia 2026: Ancaman Nyata, Dunia Disorot

Muhammad Awaludin • Sabtu, 25 April 2026 | 10:44 WIB
Ilustrasi nyamuk Anopheles penyebab malaria, ancaman global yang masih menelan ratusan ribu korban jiwa setiap tahun.(Ilustrasi ai/Radar Palu
Ilustrasi nyamuk Anopheles penyebab malaria, ancaman global yang masih menelan ratusan ribu korban jiwa setiap tahun.(Ilustrasi ai/Radar Palu

 

RADAR PALU – Dunia kembali diingatkan pada ancaman lama yang belum benar-benar hilang. Malaria masih membunuh, dan jumlah korbannya tak sedikit. 

Peringatan Hari Malaria Sedunia 2026 pada 25 April menjadi momentum keras bagi dunia untuk bergerak lebih cepat. Bukan sekadar seremoni, tapi peringatan serius bahwa penyakit ini masih jadi ancaman global. 

Data dari World Health Organization menunjukkan situasi yang belum aman. Sepanjang 2024, tercatat sekitar 282 juta kasus malaria di seluruh dunia. 

Baca Juga: APINDO Sulteng Dorong Iklim Usaha Berdaya Saing Lewat Rakerkonprov 2026

Angka kematiannya juga masih tinggi. Sekitar 610 ribu orang dilaporkan meninggal akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles tersebut. 

WHO pun tak lagi sekadar mengimbau. Seruan tegas disampaikan agar semua negara segera bertindak nyata. 

“Kini saatnya bertindak mengakhiri malaria,” tegas WHO dalam pernyataannya. 

Baca Juga: Iran ke Islamabad, Sinyal Negosiasi dengan AS Hidup Lagi?

Meski berbagai upaya telah dilakukan selama bertahun-tahun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan belum selesai. Bahkan, beberapa faktor baru justru memperumit situasi. 

Salah satunya adalah resistensi obat. Parasite malaria mulai menunjukkan kemampuan bertahan terhadap pengobatan yang selama ini digunakan. Ini membuat penanganan jadi lebih sulit dan berisiko memperpanjang penyebaran. 

Tak hanya itu, perubahan iklim ikut memperluas wilayah penyebaran nyamuk. Daerah yang sebelumnya aman kini mulai terpapar risiko malaria. 

Masalah klasik juga belum teratasi: pendanaan yang terbatas. Banyak negara, terutama di kawasan berkembang, masih kesulitan menyediakan anggaran memadai untuk pencegahan dan pengobatan. 

Indonesia sendiri belum sepenuhnya bebas dari ancaman malaria. Kasus masih ditemukan di wilayah timur, terutama Papua dan daerah terpencil lainnya. 

Kondisi geografis, akses layanan kesehatan, hingga faktor sosial menjadi tantangan tersendiri dalam upaya eliminasi. 

Baca Juga: Arbeloa Murka, Wasit Tak Beri Penalti dan Anggap Gol Betis Diawali dari Pelanggaran 

Bagi masyarakat, malaria bukan sekadar angka statistik. Penyakit ini berdampak langsung pada kehidupan—menurunkan produktivitas, mengganggu ekonomi keluarga, hingga merenggut nyawa. 

Peringatan Hari Malaria Sedunia tahun ini menjadi pengingat bahwa perang melawan malaria belum usai. 

Dunia dituntut tak hanya fokus pada target eliminasi, tapi juga memperkuat kolaborasi global, inovasi pengobatan, serta edukasi masyarakat. 

Tanpa langkah konkret, angka ratusan juta kasus itu bukan tidak mungkin terus bertambah.***

Editor : Muhammad Awaludin
#hari malaria sedunia 2026 #kasus malaria global #WHO malaria #penyakit mematikan #malaria Indonesia