RADAR PALU - Tembakan peringatan dilepaskan. Dua kapal langsung berbalik. Ketegangan di Selat Hormuz kini bukan lagi sinyal—tapi aksi nyata yang mengancam jalur energi dunia.
Iran melalui IRGC Navy dilaporkan memaksa sedikitnya dua kapal keluar dari Selat Hormuz, Sabtu (18/4). Bahkan, tindakan itu disertai tembakan ke arah kapal yang melintas.
Selat sempit ini selama ini menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak global.
Baca Juga: Update Pagi: Abrasi Banggai Kepulauan, Tanggul 100 Meter Jebol, Warga Masih Waspada
Kapal Dihalau, Radio Peringatan Disiarkan
Sejumlah laporan pelayaran menyebut kapal-kapal menerima pesan radio tegas: Selat Hormuz ditutup, tidak ada yang boleh melintas.
UK Maritime Trade Operations (UKMTO) di Dubai mengonfirmasi dua kapal patroli bersenjata Iran menembaki sebuah kapal tanker dan kapal lain di timur laut Oman.
Baca Juga: Mobil Ringsek di Tol MEX, Siti Nurhaliza Selamat: “Saya Sudah Bisa Lompat Lagi”
Data dari TankerTrackers menyebut dua kapal asal India ikut terdampak. Salah satunya supertanker VLCC yang mengangkut sekitar 2 juta barel minyak Irak.
Dampak kerusakan kapal dan muatan belum diketahui.
Iran Perketat Kontrol, AS Tetap Blokade
Pemerintah Iran sebelumnya sudah memberi sinyal pengetatan militer di Selat Hormuz.
Dalam siaran televisi nasional, komando militer Iran menuding Amerika Serikat melanggar komitmen dengan tetap menjalankan blokade laut terhadap kapal dari dan menuju pelabuhan Iran.
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan memperingatkan kesiapan militernya memberi “kekalahan pahit baru” bagi musuh.
Baca Juga: Mobil Ringsek di Tol MEX, Siti Nurhaliza Selamat: “Saya Sudah Bisa Lompat Lagi”
Trump: Damai atau Konflik Meledak Lagi
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sempat menyebut ada “kabar cukup baik” terkait Iran.
Namun, ia juga memberi peringatan keras: konflik bisa pecah lagi jika tak ada kesepakatan sebelum masa gencatan senjata dua pekan berakhir.
“Hal utama adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegas Trump.
Ia memastikan blokade AS tetap berlaku hingga perjanjian resmi tercapai.
Dampak Global, 23 Kapal Sudah Putar Balik
Komando Pusat AS mencatat sedikitnya 23 kapal telah mematuhi perintah untuk berbalik sejak blokade maritim diberlakukan.
Situasi ini langsung memicu kekhawatiran pasar global. Selat Hormuz adalah urat nadi distribusi energi dunia—gangguan kecil saja bisa berdampak besar pada harga minyak dan stabilitas ekonomi.
Upaya diplomasi masih buntu. Iran belum menyetujui negosiasi baru, sementara sejumlah negara, termasuk Pakistan, mencoba mendorong de-eskalasi.
Ketegangan terus naik. Dunia kini menunggu: apakah ini menuju perang terbuka atau jalan damai yang semakin menjauh?***
Editor : Muhammad Awaludin