RADARPALU – Edukator kebencanaan sekaligus anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), Daryono, mengingatkan masyarakat agar tidak keliru membedakan antara tsunami dan ombak biasa.
Keduanya memiliki perbedaan mendasar, baik dari sisi penyebab maupun karakteristik gelombangnya.
Menurut Daryono, ombak biasa umumnya dipicu oleh hembusan angin yang hanya menggerakkan lapisan permukaan air laut.
Baca Juga: 135 Siswa Diduga Keracunan MBG di Jakarta Timur
“Gelombang angin hanya melibatkan pergerakan di permukaan dengan pola melingkar, panjang gelombangnya relatif pendek, dan durasi sapuannya di pantai hanya beberapa detik,” jelasnya.
Sebaliknya, tsunami terjadi akibat gangguan vertikal di dasar laut, seperti gempa bumi, longsor bawah laut, atau letusan gunung api.
Peristiwa ini menyebabkan seluruh kolom air dari dasar hingga permukaan bergerak sebagai satu massa besar.
Baca Juga: 150 Alumni LPDP Pejuang Digital Diterjunkan ke Daerah 3T
Di laut dalam, tsunami memiliki panjang gelombang sangat besar, bahkan mencapai ratusan kilometer, dan bergerak dengan kecepatan tinggi mendekati pesawat jet.
Saat mencapai pantai, tsunami tidak pecah seperti ombak biasa, melainkan datang sebagai dorongan air besar menyerupai “tembok air” atau banjir kuat dengan durasi genangan yang bisa berlangsung beberapa menit hingga satu jam.
Ia menambahkan, secara ilmiah gelombang angin merupakan hasil transfer energi dari angin ke air, sedangkan tsunami adalah gelombang gravitasi panjang yang melibatkan perpindahan massa air dalam skala besar.
Karena itu, pemahaman yang tepat dinilai penting agar masyarakat tidak mudah panik sekaligus lebih siap menghadapi potensi bencana tsunami yang sebenarnya.(*)
Editor : Mugni Supardi