RADAR PALU - Kabar duka menyelimuti dunia politik di Kabupaten Morowali. Anggota DPRD Morowali periode 2024–2029, Mohammad Sadhak Husain Zainal Abidin, meninggal dunia pada Kamis, 2 April 2026, pukul 12.30 WITA di RSUD Undata.
Kepergian Sadhak di usia yang masih muda meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga jajaran Pemerintah Kabupaten Morowali, legislatif, serta masyarakat yang pernah merasakan kiprah dan pengabdiannya. Ia adalah putra dari politisi senior Partai Golkar, Zainal Abidin Ishak, yang juga dikenal sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah.
Lahir di Poso pada 23 Desember 1989, Sadhak tumbuh sebagai sosok muda yang aktif dan memiliki kepedulian tinggi terhadap persoalan sosial. Sejak awal terjun ke dunia politik, ia dikenal dekat dengan masyarakat dan responsif terhadap berbagai persoalan di daerah pemilihannya.
Baca Juga: BMKG Turunkan Tim Ahli, Pasang Seismograf di Maluku Utara Pascagempa M 7,6
Karier politiknya mencapai tonggak penting saat ia resmi dilantik sebagai anggota DPRD Morowali pada 28 Agustus 2024 dari daerah pemilihan (dapil) II melalui Partai Golkar. Dalam waktu yang relatif singkat, ia menunjukkan komitmen sebagai legislator dengan aktif menyerap aspirasi masyarakat serta memperjuangkannya dalam forum dewan.
Tak hanya di parlemen, Sadhak juga memegang peran strategis di partai sebagai Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Morowali. Di posisi tersebut, ia berkontribusi dalam memperkuat konsolidasi organisasi dan mendorong program-program politik yang berorientasi pada pembangunan daerah.
Bagi banyak orang, Sadhak bukan sekadar politisi muda, tetapi juga representasi harapan akan lahirnya generasi baru pemimpin daerah yang progresif dan peduli. Dedikasi dan semangat pengabdiannya menjadi kenangan yang akan terus hidup di tengah masyarakat.
Baca Juga: Arnila Resmi Jadi Wakil Ketua DPRD Sulteng Gantikan Aristan
Kini, langkahnya telah terhenti. Namun jejak pengabdian yang ia tinggalkan akan selalu dikenang sebagai bagian dari perjalanan pembangunan Morowali—sebuah warisan dari seorang legislator muda yang pergi terlalu dini. (*)