RADAR PALU - Gelombang ketiga demo No Kings Amerika Serikat kembali pecah di berbagai kota, Sabtu (28/3/2026). Jutaan warga turun ke jalan memprotes kebijakan Donald Trump, mulai dari deportasi imigran hingga konflik Iran.
Gelombang Protes Kian Meluas
Aksi demo No Kings Amerika Serikat kali ini disebut sebagai yang terbesar sejak awal gerakan. Lebih dari 3.200 demonstrasi direncanakan berlangsung di seluruh 50 negara bagian.
Menariknya, sekitar dua pertiga aksi justru digelar di kota-kota kecil. Angka ini meningkat hampir 40 persen dibanding mobilisasi pertama pada Juni tahun lalu.
Sejumlah kota besar seperti New York City, Dallas, Philadelphia, dan Washington, D.C. tetap menjadi pusat keramaian massa.
Kritik Tajam ke Kebijakan Trump
Para demonstran menyuarakan penolakan terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Trump. Isu yang disorot antara lain keterlibatan dalam konflik Iran, pengetatan imigrasi, hingga meningkatnya biaya hidup.
Dalam orasinya, peserta aksi menilai arah kepemimpinan saat ini mengancam demokrasi.
“Trump ingin memerintah sebagai tiran. Tetapi ini Amerika, kekuasaan ada di tangan rakyat, bukan calon raja,” demikian salah satu seruan massa, dikutip dari laporan internasional.
Dukungan Tokoh Publik dan Veteran
Di New York City, puluhan ribu orang memadati jalanan. Aktor senior Robert De Niro turut hadir dalam aksi tersebut.
Sementara itu, di Atlanta, ribuan demonstran juga berkumpul. Salah satu peserta, veteran militer Marc McCaughey, menilai kondisi negara sedang tidak baik.
“Kami merasa konstitusi terancam. Ini bukan situasi normal,” ujarnya kepada AFP.
Aksi Menyebar hingga Eropa
Gaung demo No Kings Amerika Serikat bahkan meluas ke luar negeri. Aksi solidaritas digelar di sejumlah kota Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Rome.
Di Roma, sekitar 20 ribu orang turun ke jalan dengan pengamanan ketat aparat.
Gerakan “No Kings” Terus Membesar
Gerakan ini bukan pertama kali terjadi. Aksi perdana berlangsung pada Juni tahun lalu, bertepatan dengan ulang tahun Trump ke-79.
Saat itu, jutaan warga turun ke jalan di berbagai kota. Gelombang kedua pada Oktober bahkan menarik sekitar tujuh juta peserta.
Kini, pada aksi ketiga, penyelenggara mengklaim tambahan satu juta peserta dan ratusan demonstrasi baru ikut bergabung.
Momentum Politik Jelang Pemilu
Demo No Kings Amerika Serikat berlangsung di tengah meningkatnya tensi politik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.
Menariknya, lonjakan partisipasi juga terjadi di negara bagian yang dikenal sebagai basis Partai Republik seperti Idaho, Wyoming, Montana, dan Utah.
Dengan skala yang terus membesar, gerakan demo No Kings Amerika Serikat menunjukkan bahwa dinamika politik di Negeri Paman Sam masih akan memanas menjelang pemilu mendatang.***
Editor : Muhammad Awaludin