Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Perang Timur Tengah, Alarm Pasokan Energi dan Pangan, Kemandirian Perlu Dibangun dan Sulteng Bisa Jadi Model

Muchsin Siradjudin • Jumat, 13 Maret 2026 | 21:28 WIB

 Dr. Hasanuddin Atjo (FOTO: MUCHSIN SIRADJUDIN/RADAR PALU)
Dr. Hasanuddin Atjo (FOTO: MUCHSIN SIRADJUDIN/RADAR PALU)

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

PERANG Timur Tengah Iran VS Israel - AS, megancam akan ketersediaan energi maupun pangan di sejumlah negara.

Perang berkepanjangan bisa menimbulkan kelaparan dan kegelapan bahkan bisa saja berujung pada kekacauan.

Sangat tidak diharap perang ini meluas dan pecah menjadi perang "dunia ke -3". Masih hitungan hari, dampak sudah terasa. Harga minyak mentah merangkak naik menjadi $US 100 -111 per barel dari harga normal $US 70 - 80 ( Brent, 2026).

Kurs rupiah terhadap dollar AS terkoreksi menjadi Rp 17 ribu per dollar dari sebelumnya sekitar Rp 15 ribu-an. Upaya memulihkan ekonomi semakin berat dan penuh tantangan. Ditambah persoalan internal terkait sejumlah tatakelola yang belum beres.

Indonesia emas tahun 2045, rakyat Indonesia digadang gadang akan berpendapatan minimal $US 23.000 dari $US 5.870 tahun 2026. Ini menjadi tantangan dan tanda tanya besar yang mesti dijawab

Ribuan korban jiwa meninggal sia sia. Tidak kalah pentingnya bahwa sejumlah aset strategis seperti kilang minyak dan gas di wilayah Timur Tengah ikut hancur karena dihantam bom yang disengaja ataupun tidak.

Selat Hormuz berada di utara wilayah Iran, dan di Selatan wilayah Oman bersama Arab Saudi. Merupdkan jalur yang strategis bagi logistik maupun perdagangan. Diperkirakan sekitar 20 persen dari kebutuhan energi dunia dipasok melalui jalur ini

Sementara waktu, jalur ini jadi tidak aman dilintasi oleh kapal kapal pengangkut BBM dan Gas . Dampaknya pasokan emergi ke sejumlah Negara, termasuk ke Indonesia mulai terganggu.

Pasokan hahan baku pupuk untuk produksi pertanian juga ikut terpengaruh. Dikuatirkan bisa mempengaruhi produksi pangan, karena keterbasan suplai pupuk dengan harga yang pasti lebih mahal.

Secara agregat situasi dan kondisi ini bisa menyebabkan inflasi super tinggi, bermuara pada naiknya kemiskinan dan pengangguran serta ancaman stabilitas Negeri berpenduduk kurang lebih 283 juta jiwa.

Ke depan diperlukan strategi agar Indonesia bisa mandiri tethadap kebutuhan energi dan pangan. Dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, kemandirian energi, pangan dan air menjadi salah satu program prioritasnya dan telah terdokumentasi pada RPJMN .

Pada tingkat regional daerah, Gubernur Anwar Hafid melalui program perioritas 9 Berani telah mengakomodir ,tuntutan kemandirian energi, pangan dan air melalui program Berani lancar dan Berani Makmur.

Sulawesi Tengah bisa menjadi model kemandirian energi dan pangan. Pasalnya Provinsi yang dilintasi equator line atau garis khatulistiwa memiliki SDA untuk energi dan pangan

Sejumlah sumber energi yang existing dan potensial dimiliki. Diantaranya Nikel di Morowali dan Morowali Utara sebagai bahan baku baterai lithium, penggerak peralatan mulai sederhana hingga peralatan berat.

Gas alam Dongi Sinoro-LNG di Banggai telah berkontribusi signifikan terhadap ekspor gas Nasional (kapasitas 2,1 juta ton/tahun). Selain itu juga dipergunakan untuk PLN dan Industri lokal serta dirancang memenuhi kebutuhan Rumah Tangga.

Potensi energi terbarukan juga dimiliki. Mulai PLTA (Poso dan Lindu), panas bumi dan PLTS melengkapi potensi energi yang tidak dimiliki secara lengkap oleh wilayah lain.

Potehsi sektor pangan - Agro Maritim tidak perlu diragukan lagi. Mulai Tanaman Pangan - Hirtikultura, Perkebunan, dan Peternakan hingga sub sektor Perikanan-Kelautan, berada pada empat kawasan yaitu Selat Makassar, Teluk Tomini, Teluk Tolo, dan laut Sulawesi.

Konsep integrasi farming dan urban farming menjadi satu pendekatan pengembangan sektor pangan-Agro Maritim. Dengan pendekatan ini, maka efisiensi bermuara pada daya saing bisa diperoleh.

Terakhir, diharapkan melalui program 9 Berani dilahirkan model Kemadirian Energi dan Pangan di Sulawesi Tengah, dan menjadi model Nasional.

Ada keyakinan lewat "tangan dingin" Gubernur Anwar Hafid dan Wakilnya Reny Lamadjido model ini bisa terlahirkan.

 

*) Penulis adalah Tim Percepatan Prioritas Pembangunan Provinsi (TP4).


  

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Model kemandirian energi #Strategi Indonesia mandiri #Menimbulkan perang dahsyat #Perang berkepanjangan