RADAR PALU- Sebuah video yang memperlihatkan pasangan lanjut usia (lansia) di wilayah Kabupaten Nias viral di media sosial. Video tersebut memicu simpati warganet setelah beredar narasi bahwa pasangan kakek dan nenek itu diminta membayar Rp600 ribu usai meteran listrik di rumah mereka dicabut.
Video tersebut salah satunya dibagikan melalui akun Instagram @andreli_48 dan kemudian ramai diperbincangkan oleh pengguna media sosial.
Dalam keterangan unggahan disebutkan pasangan lansia tersebut tinggal di Desa Orahua. Mereka digambarkan menjalani kehidupan sederhana dengan penggunaan listrik yang relatif kecil di rumahnya.
Narasi yang beredar menyebut pasangan tersebut hanya menggunakan beberapa lampu kecil serta satu rice cooker untuk kebutuhan sehari-hari. Karena penggunaan listrik yang hemat, token listrik disebut bisa bertahan cukup lama.
Namun kondisi itu disebut memunculkan kecurigaan dari petugas karena pemakaian listrik dinilai tidak biasa.
“Pasangan lansia di Desa Orahua Nias begitu malang, hanya karena menggunakan tiga lampu kecil dan satu rice cooker yang membuat token listrik awet, ini membuat pemakaian listriknya dicurigai aneh oleh petugas,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Dalam cerita yang beredar di media sosial, warga sekitar sempat menjelaskan bahwa pasangan lansia itu memang terbiasa menggunakan listrik secara hemat.
Meski demikian, meteran listrik di rumah mereka disebut tetap dicabut. Agar listrik bisa kembali menyala, pasangan tersebut dikabarkan diminta membayar sekitar Rp600 ribu.
Unggahan itu juga menyebut pasangan lansia tersebut akhirnya membayar biaya tersebut menggunakan uang bantuan langsung tunai (BLT) yang mereka terima.
Video tersebut langsung menuai beragam komentar dari warganet. Banyak yang menyampaikan rasa iba serta berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dari pihak terkait.
Sejumlah warganet juga meminta klarifikasi dari pihak Perusahaan Listrik Negara terkait informasi yang beredar dalam video tersebut.
Hingga kini, video itu masih ramai dibagikan di berbagai platform media sosial dan memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.
Editor : Muhammad Awaludin