Dalam 100 jam pertama konflik, pengeluaran militer Amerika diperkirakan telah mencapai US$3,7 miliar atau hampir US$900 juta per hari.
Angka tersebut diungkap dalam analisis lembaga riset yang berbasis di Washington, Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Baca Juga: BKPSDMD Palu Buka Seleksi Jabatan Administrator 2026, Ini Syarat dan Link Daftarnya
Peneliti pertahanan Mark Cancian dan Chris Park menyebut sebagian besar biaya itu berasal dari penggunaan amunisi dan sistem persenjataan berteknologi tinggi dalam operasi militer yang intens.
Dalam laporan tersebut disebutkan, militer United States telah menembakkan lebih dari 2.000 unit amunisi dari berbagai jenis selama 100 jam pertama perang.
Penggunaan amunisi dalam jumlah besar ini menunjukkan tingginya intensitas serangan yang dilakukan AS, termasuk melalui pembom siluman dan sistem senjata canggih.
Baca Juga: Cara Daftar Tiket Gratis Kapal Laut Lebaran 2026 dari Kemenhub
CSIS memperkirakan biaya untuk mengisi kembali stok amunisi yang telah digunakan mencapai sekitar US$3,1 miliar jika diganti dengan jenis dan jumlah yang sama. Bahkan, bila operasi militer terus berlangsung dengan tempo serupa, biaya penggantian persenjataan diperkirakan akan bertambah sekitar US$758,1 juta setiap hari.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa sebagian besar biaya perang ini belum dialokasikan dalam anggaran resmi. Dari total perkiraan pengeluaran US$3,7 miliar, sekitar US$3,5 miliar di antaranya belum dianggarkan sebelumnya.
Kondisi ini membuat US Department of Defense atau Pentagon kemungkinan harus mengajukan tambahan anggaran kepada Kongres untuk menutup biaya operasi militer yang terus membengkak.
Baca Juga: Perangi Gratifikasi, BBPOM Palu Ingatkan Pegawai untuk Jaga Integritas
Di sisi lain, perang ini juga berpotensi memicu perdebatan politik di dalam negeri Amerika, terutama bagi pemerintahan Donald Trump. Selain tekanan anggaran, meningkatnya biaya hidup, inflasi, dan kenaikan harga bahan bakar akibat konflik global juga dikhawatirkan dapat menggerus dukungan publik terhadap operasi militer tersebut. (*)
Editor : Agung Sumandjaya