Bertrand dilaporkan tewas setelah terkena peluru yang diduga berasal dari senjata milik Nasrullah. Kasus ini menimbulkan perhatian luas karena bertolak belakang dengan rekam jejak Nasrullah yang sebelumnya dikenal berprestasi dan pernah viral karena aksi penyelamatan seorang balita korban penculikan.
Perwira yang kini menjabat Kanit Reskrim Polsek Panakkukang itu sebelumnya dikenal publik saat memimpin operasi penyelamatan balita Bilqis yang diculik di Makassar pada 2 November 2025. Dalam kasus tersebut, korban sempat dijual secara berantai hingga akhirnya terlacak berada di wilayah pedalaman Suku Anak Dalam, Kabupaten Merangin, Jambi.
Baca Juga: Temuan Kalamba Rusak, BPK Wilayah XVIII Selidiki Dugaan Pengrusakan oleh Oknum
Nasrullah bersama tiga anggota Polrestabes Makassar menempuh perjalanan panjang hingga ke pedalaman untuk menyelamatkan korban. Setelah melakukan negosiasi dengan masyarakat adat setempat, tim akhirnya berhasil membawa Bilqis kembali ke Makassar pada 8 November 2025.
Perjalanan menuju lokasi penyelamatan tidak mudah. Tim harus menempuh perjalanan sekitar 12 jam dari Kota Jambi melewati pegunungan dan hutan.
“Perjalanan kami 12 jam dari Kota Jambi, melewati pegunungan dan hutan hingga sampai ke wilayah Suku Anak Dalam,” kata Nasrullah dalam wawancara dengan Harian Fajar pada November 2025.
Baca Juga: Cara Daftar Tiket Gratis Kapal Laut Lebaran 2026 dari Kemenhub
Dalam operasi tersebut, ia didampingi oleh tiga anggota lain yakni Ipda Supriadi Gaffar, Bripka Megawan Parante, dan Briptu Muh Arif. Mereka bahkan harus tidur di mobil dan makan di pinggir jalan selama operasi berlangsung.
Polisi Bergelar Doktor
Di luar tugas kepolisian, Nasrullah juga dikenal memiliki perjalanan akademik yang tidak biasa. Perwira kelahiran Jeneponto, 21 Juni 1987 itu menyandang gelar doktor dari Universitas Hasanuddin.
Ia meraih gelar doktor pada Juli 2025 di Fakultas Hukum dengan disertasi berjudul “Urgensitas Digital Forensik pada Tahap Penyidikan Tindak Pidana Elektronik”.
Baca Juga: Dikunjungi Komisi III DPR RI, Kapolda Sulteng Ungkap 60 Kecamatan Belum Miliki Polsek
Nama lengkapnya adalah Iptu Dr Nasrullah AmdKep SE MH. Gelar AmdKep diperolehnya dari Akademi Keperawatan Mappaodsang pada 2011. Ia kemudian melanjutkan studi ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Lembaga Pendidikan Indonesia Makassar hingga meraih gelar sarjana ekonomi.
Nasrullah juga menyelesaikan pendidikan magister hukum di Universitas Muslim Indonesia sebelum akhirnya meraih gelar doktor.
Karier dari Bintara
Karier Nasrullah di kepolisian dimulai dari jalur bintara. Ia pertama kali berpangkat Brigadir Pembantu Dua pada 2006.
Perjalanannya kemudian berlanjut menjadi Brigadir Pembantu Satu pada 2010, Brigadir Polisi pada 2014, Brigadir Kepala pada 2019, hingga akhirnya diangkat menjadi perwira pertama dengan pangkat Ipda pada 2020. Pada 2025 ia naik pangkat menjadi Inspektur Polisi Satu (Iptu).
Sepanjang kariernya, ia pernah bertugas di berbagai posisi, mulai dari BA Ditsamapta Polda Sulsel hingga penyidik di Satreskrim Polrestabes Makassar. Ia juga pernah mendapat penugasan internasional sebagai anggota Formed Police Unit misi United Nations di Sudan.
Dikenal Religius
Di lingkungan keluarga dan rekan kerjanya, Nasrullah dikenal sebagai sosok religius. Ia disebut telah menghafal 15 juz Al-Qur’an. Sementara anak sulungnya yang masih duduk di kelas 5 SD bahkan telah menyelesaikan hafalan 30 juz.
Atas keberhasilannya menyelamatkan Bilqis tanpa luka, Nasrullah bersama tiga rekannya juga sempat mendapat hadiah umrah dari pengusaha Makassar, Fenny Frans.
Kini, di tengah sorotan kasus yang menjeratnya, rekam jejak panjang Nasrullah sebagai polisi lapangan sekaligus akademisi kembali menjadi perbincangan publik. (*)
Editor : Agung Sumandjaya