Pria bernama lengkap Johnsony Maharsak Lumban Tobing itu mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan stroke yang dideritanya sejak pertengahan Desember 2025. Kepergiannya menjadi kehilangan besar, terutama bagi kalangan aktivis dan pegiat gerakan sosial yang selama puluhan tahun menjadikan karyanya sebagai simbol perlawanan.
Jenazah almarhum saat ini disemayamkan di Rumah Duka RS Bethesda Yogyakarta hingga Sabtu (28/2) mendatang. Rencananya, keluarga dan kerabat akan memberikan penghormatan terakhir sebelum prosesi pemakaman dilakukan.
Nama John Tobing tak bisa dilepaskan dari sejarah gerakan mahasiswa Indonesia. Karya ciptaannya, Darah Juang, telah menjelma menjadi lagu wajib dalam berbagai aksi demonstrasi di seluruh penjuru negeri. Liriknya yang penuh semangat pengorbanan dan keberanian mampu membakar solidaritas massa, dari generasi Reformasi 1998 hingga aktivis masa kini.
Lebih dari sekadar pencipta lagu, John Tobing dikenang sebagai sosok yang menghadirkan energi moral bagi perjuangan sosial. Melalui nada dan kata, ia merawat api perlawanan terhadap ketidakadilan—menjadikan Darah Juang bukan hanya lagu, tetapi warisan sejarah gerakan rakyat Indonesia.
Kepergiannya boleh meninggalkan duka, namun karya dan semangat perjuangannya diyakini akan terus hidup di setiap barisan demonstrasi, setiap kepalan tangan yang terangkat, dan setiap suara yang menyanyikan lagu perjuangan di jalanan.
Profil John Tobing
John Tobing lahir di Binjai, Sumatera Utara, pada 1 Desember 1965. Dia adalah anak ketiga dari 8 bersaudara dari pasangan Hakim Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga.
Ayahnya adalah seorang PNS hakim yang sering berpindah tempat pengabdian. Otomatis, John Tobing dan keluarga juga harus berpindah-pindah tempat.
Sejak kecil, John Tobing memiliki kecintaan pada dunia musik. Dia belajar alat musik gitar secara otodidak sejak masih duduk di bangku kelas 5 SD.
Saking pengennya dibelikan gitar pertama, dia sampai berjanji ke orang tuanya untuk menghemat uang saku hingga kuliah.
Dilansir JawaPos.com dari Radar Malioboro (Jawa Pos Grup), John Tobing termasuk anak nakal pada usia remaja. Terbukti, dia sempat tidak lulus sekolah di SMA Santo Thomas Yogyakarta akibat kenakalan remaja yang dia lakukan.
John Tobing baru menyelesaikan pendidikannya setelah pindah sekolah di SMA Katolik Banjarmasin. Setelah lulus, dia kemudian melanjutkan pendidikan usai diterima di Fakultas Filsafat UGM pada tahun 1986.
Selain mendaftar kuliah di UGM, John Tobing juga sempat mendaftar di UKI Jakarta dan diterima. Hanya saja, John Tobing lebih memilih kuliah di UGM.
Pada tahun 1998 dimana aksi demonstrasi mahasiswa memuncak, John Tobing juga ikut turun ke jalan bersama para mahasiswa lainnya. Kala itu, John Tobing tampil mengobarkan semangat para mahasiswa, tampil menyanyi sambil membawa gitar. (*)
Editor : Agung Sumandjaya