RADAR PALU - Menjelang penentuan awal bulan Hijriah, pertanyaan yang sama kerap muncul: kenapa hilal kadang terlihat, kadang tidak?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, tidak semua bulan sabit bisa disebut hilal. Ada syarat ilmiah yang harus terpenuhi.
Dalam narasi video reels di Instagram resminya, BMKG membagikan lima fakta singkat soal hilal.
Pertama, hilal adalah bulan sabit pertama setelah fase konjungsi atau ijtimak. Jadi, bulan sabit yang terlihat di hari-hari biasa belum tentu hilal.
Kedua, kemunculannya sangat singkat.
Hilal biasanya hanya punya waktu beberapa menit setelah matahari terbenam. Jika terlambat sedikit saja, momen itu bisa terlewat.
Ketiga, faktor cuaca sangat menentukan.
Awan tipis di ufuk barat bisa membuat hilal tak terlihat. Karena itu, data cuaca menjadi bagian penting dalam mendukung proses rukyatul hilal.
Keempat, pengamatan hilal bukan sekadar melihat dengan mata telanjang.
Ada parameter ilmiah yang dihitung, seperti tinggi hilal dan elongasi. Perhitungan ini mengacu pada kriteria yang disepakati negara-negara anggota MABIMS.
Terakhir, pengamatan kini didukung teknologi.
Teleskop modern dan kamera digital khusus digunakan untuk meningkatkan presisi dan dokumentasi hasil rukyat.
BMKG menegaskan, pengamatan hilal adalah perpaduan antara sains dan observasi lapangan. Bukan sekadar tradisi tahunan.***
Editor : Muhammad Awaludin