RADAR PALU – Keberadaan patung dan landmark di Kota Palu dinilai perlu lebih dari sekadar memperindah kota. Unsur makna, sejarah, dan kesesuaian budaya lokal disebut penting agar ruang publik memiliki pesan yang jelas bagi warga.
Penilaian itu disampaikan akademisi Universitas Tadulako (Untad), Rachmat Saleh, yang menyoroti pentingnya perencanaan matang dalam pembangunan monumen dan patung di ruang kota Palu, Sulawesi Tengah.
Rachmat menyebut patung dan monumen idealnya menjadi penanda kota yang memiliki nilai simbolik, bukan sekadar elemen visual. Selama tidak bertentangan dengan nilai masyarakat, estetika publik dinilai sah.
“Fungsi utamanya memperindah kota dan menjadi penanda ruang, bukan untuk kepentingan tertentu. Selama sesuai kultur, estetika publik itu wajar,” kata Rachmat, kepada Radar Palu l, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, setiap karya di ruang publik harus melalui proses perancangan yang terukur. Aspek skala kota, lingkungan sekitar, dan konteks ruang harus menjadi pertimbangan utama.
“Kalau by design, seharusnya semua aspek sudah dipikirkan. Tidak bisa berdiri begitu saja tanpa konteks,” ujarnya.
Rachmat juga menekankan pentingnya pesan yang dapat diterjemahkan masyarakat. Tanpa makna yang jelas, patung hanya akan dipandang sebagai hiasan visual.
“Apa pesannya, apa yang ingin diingatkan ke publik. Idealnya ada keterkaitan dengan sejarah atau peristiwa di lokasi tersebut,” jelasnya.
Ia mencontohkan monumen di kawasan Taman GOR Palu yang memiliki kaitan historis, termasuk jejak kunjungan Presiden Soekarno di masa lalu. Sementara sejumlah patung lain dinilai masih menonjolkan estetika tanpa narasi kuat.
Ke depan, ia berharap pemerintah daerah lebih cermat dalam menghadirkan karya seni di ruang publik agar tidak menimbulkan polemik.
“Estetika, makna, sejarah, dan budaya harus berjalan bersama. Patung seharusnya memperindah kota, bukan memicu kontroversi,” tutupnya.***
Editor : Muhammad Awaludin