RADAR PALU– Penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak masyarakat khawatir, bahkan muncul anggapan GERD bisa menyebabkan kematian mendadak atau serangan jantung.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Zubairi Djoerban, angkat bicara. Melalui akun Instagram resminya @profesorzubairi, ia meluruskan berbagai miskonsepsi seputar GERD yang banyak dialami masyarakat Indonesia.
“Pada prinsipnya, GERD sangat jarang menyebabkan kematian,” tegas Prof Zubairi.
Ia memaparkan, berdasarkan data medis, angka kematian akibat GERD tergolong sangat rendah, yakni sekitar 46 per satu juta penderita. Angka ini menunjukkan bahwa GERD bukan penyakit mematikan secara langsung, selama ditangani dengan benar.
Kenapa GERD Sering Disangka Serangan Jantung?
Prof Zubairi menjelaskan, kebingungan masyarakat kerap muncul karena gejala GERD mirip dengan serangan jantung. Nyeri dada, rasa tertekan, mual, kembung, hingga sensasi panas di dada sering membuat penderita panik.
Namun, ia menegaskan, GERD tidak menyebabkan serangan jantung. Kesamaan gejala ini biasanya dipicu oleh obesitas, yang menjadi faktor risiko bersama antara GERD dan penyakit jantung.
“Obesitasnya yang menyebabkan GERD, obesitasnya juga yang menyebabkan sakit jantung,” jelasnya.
Apakah GERD Bisa Berbahaya? Ini Penjelasannya
Meski jarang mematikan, GERD tetap tidak boleh disepelekan. Asam lambung yang terus naik ke kerongkongan dapat menyebabkan luka, perdarahan, hingga jaringan parut pada esofagus. Jika tidak tertangani dengan baik, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Karena itu, diagnosis dini menjadi kunci. Pemeriksaan bisa dimulai dari dokter umum, dilanjutkan ke dokter spesialis penyakit dalam, dan pada kasus tertentu perlu pemeriksaan endoskopi untuk melihat tingkat keparahan luka.
Cara Mencegah dan Mengontrol GERD
Prof Zubairi menekankan bahwa GERD bisa dicegah dan dikontrol. Beberapa langkah penting yang dianjurkan antara lain:
Tidak makan menjelang tidur (maksimal pukul 19.00 WIB)
Menghindari makanan pedas, alkohol, dan rokok
Mengubah pola makan menjadi sedikit tapi sering (small frequent feeding)
Tidak langsung berbaring setelah makan
Minum obat sesuai anjuran dokter
Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi antar dokter, terutama bagi pasien yang mengonsumsi banyak obat. Beberapa obat lambung dapat mengganggu efektivitas obat lain jika tidak dikonsultasikan dengan baik.
“Kalau diobati dengan baik, GERD bisa terkontrol. Bisa! Semangat!” tutup Prof Zubairi dengan optimistis.***
Editor : Muhammad Awaludin