Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

25 Januari, Jejak Sejarah Lahirnya Hari Kusta Sedunia

Muhammad Awaludin • Minggu, 25 Januari 2026 | 11:20 WIB
Raoul Follereau, seorang jurnalis dan aktivis kemanusiaan asal Prancis dan Mahatma Gandhi, tokoh dunia yang dikenal memiliki kepedulian besar terhadap penderita kusta.
Raoul Follereau, seorang jurnalis dan aktivis kemanusiaan asal Prancis dan Mahatma Gandhi, tokoh dunia yang dikenal memiliki kepedulian besar terhadap penderita kusta.

RADAR PALU– Selain diperingati sebagai Hari Gizi Nasional, 25 Januari juga memiliki makna penting di tingkat global. Tanggal ini kerap bertepatan dengan Hari Kusta Sedunia, momen internasional untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit kusta sekaligus melawan stigma yang masih melekat hingga kini.

Hari Kusta Sedunia pertama kali diprakarsai pada 1954 oleh Raoul Follereau, seorang jurnalis dan aktivis kemanusiaan asal Prancis. Ia dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan hak dan martabat para penyintas kusta di berbagai negara. 

 

 

 

Follereau memilih Minggu terakhir bulan Januari sebagai Hari Kusta Sedunia untuk mengenang Mahatma Gandhi, tokoh dunia yang dikenal memiliki kepedulian besar terhadap penderita kusta. Gandhi wafat pada 30 Januari 1948 dan semasa hidupnya aktif merawat serta membela penyintas kusta di India.

Sejak saat itu, Hari Kusta Sedunia diperingati setiap tahun di berbagai belahan dunia. Tujuannya bukan hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit kusta, tetapi juga menghapus stigma dan diskriminasi yang kerap dialami penyintas dalam kehidupan sosial. 

Secara medis, kusta merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama menegaskan bahwa kusta dapat disembuhkan, terutama jika ditangani sejak dini melalui pengobatan multidrug therapy (MDT) yang tersedia secara luas.

Namun, sejarah panjang kusta yang kerap dikaitkan dengan mitos dan ketakutan membuat penyakit ini masih diselimuti stigma. Di banyak negara, termasuk Indonesia, penyintas kusta masih menghadapi tantangan sosial berupa pengucilan, keterbatasan akses kerja, hingga diskriminasi dalam lingkungan tempat tinggal.

Karena itulah, peringatan Hari Kusta Sedunia terus mengusung pesan kemanusiaan. Tema global yang diangkat dari tahun ke tahun menekankan bahwa tantangan terbesar kusta saat ini bukan lagi pada pengobatan, melainkan penerimaan sosial dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. 

Di Indonesia, peringatan Hari Kusta Sedunia menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat edukasi publik. Upaya ini mencakup pemahaman bahwa kusta tidak mudah menular, dapat disembuhkan, dan penyintas berhak hidup setara tanpa stigma.

Lebih dari sekadar peringatan medis, Hari Kusta Sedunia mengajak masyarakat untuk melihat kesehatan sebagai isu yang juga menyangkut empati dan keadilan sosial. Sejarah penetapannya mengingatkan bahwa perjuangan melawan penyakit tidak bisa dilepaskan dari perjuangan melawan prasangka.

Seiring peringatan 25 Januari, pesan Hari Kusta Sedunia menjadi relevan untuk terus digaungkan: pengetahuan menyembuhkan penyakit, sementara empati menyembuhkan luka sosial.***

Editor : Muhammad Awaludin
#stigma kusta #Radar Palu #kesehatan global #hari kusta sedunia #sejarah hari kusta #penyakit kusta