Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Pertamina Menuju Swasembada Energi: Tantangan dan Peluang?

Talib • Jumat, 31 Oktober 2025 | 15:29 WIB
MIGAS : Pengeboran Migas dilaksanakan di Kabupaten Morowali tepatnya terletak di Desa Girimulya dan Desa Momo, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
MIGAS : Pengeboran Migas dilaksanakan di Kabupaten Morowali tepatnya terletak di Desa Girimulya dan Desa Momo, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

RADAR PALU - Penemuan cadangan minyak dan gas (Migas) Baru di Kabupaten Morowali Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) salah satu upaya Pertamina dalam mendukung swasembada energi di wilayah Sulawesi terkhusus dan nasional secara umum.

Kabupaten Morowali Utara belakang ini dikenal sebagai daerah Industri pertambangan dan jadi salah satu magnet investasi dunia.

Morowali Utara juga dikenal sebagai wilayah memiliki beberapa pulau kecil di Teluk Towuri dan Teluk Tolo, seperti Pulau Pangia, Pulau Tokonanaka, dan Pulau Tokobae.

Baca Juga: Usai Dapatkan Perawatan di Rumah Sakit, Perempuan Paruh Baya Berprofesi Ojek Korban Seruduk Sapi di Layana Jalani Rawat Jalan

Dengan luas wilayah sebesar 10.004 km² lebih, Morowali Utara merupakan kabupaten terluas di Provinsi Sulawesi Tengah dan Pulau Sulawesi. Hanya saja dari segi sarana dan prasarana masih tertinggal.

Penemuan sumur Migas di Morowali Utara menjadi kabar sekaligus harapan bagi pelaku industri pertambangan yang selama ini mengeluhkan mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) di wilayah pemekaran dari Kabupaten Morowali.

Pihak perusahaan sering berkeluh-kesah tentang mahalnya harga BBM. Apalagi di daerah kepulauan. Untuk mendapatkan BBM jenis Dexlite misalnya, para pelaku tambang di wilayah Mamosalato tempat lokasi ditemukan sumur Migas bisa melalui pasar gelap atau memesan lewat agen resmi industri. Perbedaan harga di pasaran tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pelaku ekonomi.

Baca Juga: Sebut Antrean Panjang Diduga Akibat Lonjakan Konsumsi, Pertamina Pastikan Stok Pertalite di Kota Palu Aman

Dwi Cahyono, salah satu agen sekaligus transportir resmi BBM non subsidi kepada Radar Palu, Jawa Pos Grup, Rabu 22 Oktober 2025 lalu mengatakan, ada sekira 10 perusahaan di wilayah Morowali Utara yang disuplai dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM Donggala).

Padahal lokasi TBBM yang dekat dari wilayah Mamosalato Kabupaten Morowali Utara, ada tiga depot yakni, TBBM Luwuk dan TBBM Kolonodale serta TBBM Poso. Ketiga TBBM terdekat dengan lokasi tambang tersebut justru mematok harga yang tinggi alias mahal.

Harga jual BBM non subsidi jenis Dexlite dijual ke Agen kisaran Rp20.000 perliter. Sedangkan TBBM Donggala dijual ke Agen kisaran Rp17.000. Ada selisih harga Rp3000 perliter. Secara ekonomi selisih harga tersebut bisa untuk membayar transportir dari TBBM Donggala ke Morowali Utara dan masih ada sisanya.

Baca Juga: Dugaan Penganiyaan, Pemilik Showroom di Kota Palu Dilaporkan ke Polisi

Yang paling banyak tantangan kata Dwi-demikian disapa, ketika BBM hendak di suplai ke wilayah Mamosalato hanya ada dua cara yakni, menggunakan kapal Ferry seminggu 3 kali dan atau menggunakan kapal kayu milik nelayan. Jarak tempuh pelayaran dari Pelabuhan Kolonodale ke Pelabuhan rakyat Siliti, Kecamatan Mamosalato membutuhkan waktu kisaran 5-6 jam. Tergantung cuaca di laut.

Dari dua alat transportasi laut yang menurutnya paling mahal menggunakan kapal kayu. Sedangkan menggunakan kapal ferry lebih murah namun butuh waktu menunggu sesuai jadwal dan tidak bisa berangkat kapan saja.

Akibat akses jalan yang sulit satu-satunya pilihan menggunakan jasa kapal nelayan. Setiap liternya, jasa untuk nelayan dikenakan Rp700 perliter. Bisa dihitung sendiri tambahan ongkos memgirim BBM dari Pelabuhan Kolonodale menuju pelabuhan Siliti di Kecamatan Mamosalato.

Baca Juga: Wirausaha Muda Didorong Naik Kelas Lewat Pelatihan dan Akses KUR oleh Pemkot Palu

Yang bagusnya kondisi saat ini kata Dwi bahwa ketersediaan stok BBM non subsidi di Pertamina TBBM Donggala selalu melimpah. Kapan saja dibutuhkan selalu ada. Sehingga dalam sebulan pihak Agen yang menjadi mitra resmi pertamina bisa menjual hingga 1000 Kiloliter atau satu juta liter.

Soal keuntungannya enggan disebutkan namun katanya lumayan lah karena menjual BBM non subsidi sebenarnya banyak peluang dan tantangan.

Para agen dan pengusaha tambang berharap dengan ditemukannya sumur migas di wilayah Mamosalato, kedepan pelayanan BBM di wilayah utara Morowali lebih terjangkau, apalagi kalau sarana jalan sudah diperbaiki oleh pemerintah.

Baca Juga: Dari Indeks Masyarakat Digital Indonesia ke Aksi Nyata

Swasembada Energi di Sulawesi

Adalah Pertamina Drilling yang menemukan sumber daya minyak dan gas (migas) baru di sumur Tedong (TDG)-001 di Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah pada 29 Juli 2024 lalu.

Penemuan ini berpotensi meningkatkan produksi migas secara nasional dan mendukung ketahanan swasembada energi bahan bakar minyak dan gas di wilayah Sulawesi khususnya dan nasional.

Avep Disasmita selaku Direktur Utama Pertamina Drilling, memberikan apresiasi kepada tim pertamina drilling yang berhasil melaksanakan pengeboran tanpa adanya kecelakaan kerja.

Baca Juga: BMKG Geofisika Palu Gelar SLG, Perkuat Koordinasi dan Kesiapsiagaan Masyarakat

Dalam keterangannya awal Oktober 2024 lalu, Avep Disasminta mengungkapkan rasa syukurnya kepada seluruh kru yang terlibat pengeboran bisa berhasil tanpa adanya hal-hal yang tidak diinginkan, aman dan lancar dalam rentang waktu jutaan jam kerja.

Sebagai bentuk komitmen untuk mendukung target energi nasional, Avep menjelaskan bahwa pengeboran di sumur TDG-001 diharapkan dapat berkontribusi pada produksi minyak bumi nasional yang ditargetkan mencapai 1 juta barel, serta produksi gas sebesar 12 miliar kubik kaki (BCF).

Swasembada energi bidang bahan bakar merupakan salah satu fokus kebijakan utama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Baca Juga: SDN 15 Palu Tanamkan Nilai Persatuan Lewat Karnaval dan Pensi Sumpah Pemuda

Meningkatkan produksi minyak dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Saat ini, lifting minyak berada di angka sekitar 600.000 barel per hari dan perlu ditingkatkan sesuai target nasional.

Kementeriam ESDM juga menggalakkan penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Semakin banyak kendaraan listrik, konsumsi BBM akan berkurang.

Selain itu, juga dilakukan pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN). Mengoptimalkan program BBN dengan meningkatkan campuran biodiesel dari B35 ke B40, B50, hingga B60.

Baca Juga: Wujud Bhineka Tunggal Ika Ada di SD Karuna Dipa

Ini juga membutuhkan kebijakan dari pemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah Kabupaten, Provinsi dan pusat terkait penyediaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

Bisnis Berkelanjutan

Keberadaan perkebunan kelapa sawit di masing-masing daerah selain dapat memberikan dampak ekonomi masyarakat, juga dapat menjadi pengembangan bahan bakar nabati B40 secara berkelanjutan.

Gubernur Sulteng, Dr Anwar Hafid dihadapan pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) pada acara Celebes Forum I di Palu, Rabu 22 Oktober 2025 mengatakan bahwa, Sulteng didorong menjadi poros sawit digital nasional.

Gubernur yang saat itu diwakili Asisten I bidang pemerintahan dan Kesra, Fahruddin Yambas menyebutkan bahwa pemerintah provinsi optimis transfortasi digital dapat mengubah wajah industri sawit di Sulteng secara berkelanjutan.

Baca Juga: Tim Ekspedisi Patriot Undip Gelar FGD Bahas Solusi Berkelanjutan untuk Kawasan Transmigrasi di Lembantongoa Sigi

Dengan strategi ini, apa yang menjadi program pemerintah Indonesia berkaitan swasembada energi atau meningkatkan kemandirian energi diharapkan dapat mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Dampak ekonomi kelapa sawit di Sulawesi Tengah dinilai cukup signifikan. Berdasarkan beberapa studi, perkebunan kelapa sawit dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dan perekonomian daerah.

Perkebunan kelapa sawit dapat meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat lokal melalui penjualan tandan buah segar dan produk olahan lainnya.

Baca Juga: Ngeri! Polisi Telusuri Kabar Aksi Pencurian Disertai Ancaman Parang di Palu Barat

Industri kelapa sawit dapat menyerap tenaga kerja lokal, baik di sektor perkebunan maupun industri pengolahan.

Perkebunan kelapa sawit dapat meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah melalui peningkatan produksi dan ekspor produk kelapa sawit.

Pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali diikuti oleh pembangunan infrastruktur seperti jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan, yang dapat meningkatkan aksesibilitas dan layanan dasar bagi masyarakat.

Baca Juga: Poltekkes Palu Gelar Pengabdian Masyarakat Edukasi Gizi dan PMT Tinggi Protein Bagi Ibu Hamil

Industri kelapa sawit juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara melalui pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Diakhir pernyataannya dihadapan pengurus GAPKI di Palu, Gubernur Anwar Hafid juga menyampaikan peluang investasi perkebunan kelapa sawit di Sulawesi Tengah dan salah satunya di Kabupaten Sigi. Potensi lahan katanya, masih luas dan pemerintah daerah siap membantu dan mempermudah para investor berinvestasi. ***

Editor : Talib
#morowali utara #sulteng #energi #kelapa sawit #bbm #migas #B40