RADAR PALU – CV. Banua Sidat memperluas pasar ekspor ikan Sidat asal Sulawesi Tengah dengan mengikuti pertemuan bisnis (business matching) bersama Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Shanghai dan buyer asal China, Selasa (28/10/2025).
Kegiatan yang merupakan tindak lanjut dari Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 yang digelar di BSD City, Banten. Dalam ajang tersebut, CV. Banua Sidat yang merupakan anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulteng berhasil menarik minat buyer dari China terhadap produk ikan Sidat jenis Marmorata dari Sulawesi Tengah.
Namun, pada saat sesi business matching di TEI 2025, buyer asal China berhalangan hadir karena persoalan visa. Sebagai tindak lanjut, pihak ITPC Shanghai kemudian memfasilitasi penjadwalan ulang pertemuan antara CV. Banua Sidat dan buyer tersebut secara daring menggunakan Zoom Meeting.
Pada Selasa, 28 Oktober 2025, pertemuan antara kedua pihak terlaksana dengan baik. Dalam kegiatan itu, buyer dari China menyampaikan ketertarikan yang kuat dan menyatakan kesediaannya untuk membeli ikan sidat dari Sulawesi Tengah dengan kebutuhan mencapai 2.000 kilogram per hari atau sekitar 60.000 kilogram per bulan.
Dengan harga ekspor rata-rata Sidat Sulawesi Tengah yang saat ini mencapai USD 20-23 per kilogram, maka potensi nilai transaksi mencapai sekitar USD 1.200.000 per bulan, setara dengan Rp 19,92 miliar per bulan. Jika dikalkulasi selama satu tahun, nilai kerja sama ini dapat mencapai Rp 239,04 miliar.
Pemilik CV. Banua Sidat, Handri, menyampaikan bahwa peluang besar ini dapat terwujud jika seluruh pihak bergerak cepat untuk memperkuat rantai produksi Sidat di Sulawesi Tengah.
“Potensi ini luar biasa, tapi kita harus bergerak cepat untuk mengembangkan budidaya Sidat di Sulawesi Tengah agar bisa menjamin pasokan yang berkelanjutan. Permintaan pasar global, khususnya dari China, terus meningkat setiap tahun,” ujar Handri.
Sementara itu, buyer dari China juga menyampaikan bahwa untuk tahap awal, pengiriman tidak harus langsung dalam jumlah besar dan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan produksi dari pihak Indonesia.
Mereka juga menekankan pentingnya registrasi GACC (General Administration of Customs of China) bagi perusahaan eksportir di Sulawesi Tengah, karena hal tersebut kini menjadi syarat utama untuk dapat mengekspor produk ke China.
Pertemuan ini menjadi momentum strategis bagi CV. Banua Sidat dan pelaku usaha perikanan di Sulawesi Tengah untuk memperkuat posisi mereka di pasar ekspor Asia, sekaligus membuka peluang besar bagi peningkatan ekonomi daerah melalui sektor perikanan budidaya.
“Ini peluang bagus untuk para pelaku usaha perikanan khususnya Ikan Sidat,” pungkasnya.(*/ron)
Editor : Rony Sandhi