Oleh : Salihudin M. Awal
Jika membaca buku berjudul “Pemimpin Era Globalisasi Ala Gen Z” karya Harnida Wahyuni Adda terasa seperti menyusuri jalan reflektif antara masa lalu dan masa depan kepemimpinan. Buku yang dirilis Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako ini bukan sekadar kumpulan teori manajemen modern, melainkan cermin atas perubahan besar dalam cara kita memaknai kepemimpinan di tengah arus globalisasi dan disrupsi digital.
Dengan gaya bahasa yang ringan namun tajam, Harnida mengajak pembaca berpikir ulang, apakah kepemimpinan yang kita anut selama ini masih relevan?
Dalam kalimat pembuka Bab 1, ia menulis, “Dunia sedang berubah dengan cepat. Tapi apakah kepemimpinan kita ikut berubah?” kalimat simple yang terasa mengguncang.
Bab 5 membawa pembaca ke level refleksi yang lebih tinggi. Harnida menegaskan bahwa di tengah dunia yang serba cepat dan terfragmentasi, kepemimpinan yang bertahan bukan yang paling populer, melainkan yang paling sadar diri. Dunia tidak kekurangan pemimpin pintar, katanya, tetapi kekurangan pemimpin yang punya empati dan integritas.
Di bab ini ia memperkenalkan empat pilar penting kepemimpinan masa depan:
Pertama, Empati, sebagai dasar kemanusiaan dalam mengambil keputusan.
Kedua, komunikasi lintas generasi, karena kepemimpinan hari ini terjadi di ruang multiusia dan multibudaya.
Ketiga , Etika spiritual, yang menegaskan bahwa nilai moral harus menjadi fondasi tindakan.
Keempat, Ketahanan mental, agar pemimpin mampu bertahan di tengah tekanan informasi dan disrupsi teknologi.
Buku ini ditutup dengan epilog singkat yang kuat: “Pemimpin itu kamu.” Kalimat itu bukan sekadar penutup, tapi pernyataan moral. Harnida seolah ingin mengatakan bahwa setiap individu punya potensi untuk memimpin, sejauh ia berani mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri.
Sebagai seorang akademisi Harnida menulis dengan keseimbangan antara data dan empati. Buku ini bukan hanya penting bagi mahasiswa atau profesional muda, tapi juga bagi para dosen, pejabat publik, dan pemimpin organisasi yang ingin memahami cara berpikir generasi baru. Ia menulis dengan gaya yang tidak menggurui, melainkan menuntun.
Buku Pemimpin Era Globalisasi Ala Gen Z terasa relevan dengan konteks Indonesia hari ini ketika banyak anak muda sedang mencari peran dan makna di tengah dunia yang terus berubah.
Dengan bahasa yang mudah dicerna namun reflektif, Harnida berhasil menyalakan percikan penting bahwa kepemimpinan bukan warisan, tetapi perjalanan.
Dan seperti ia tulis di halaman terakhir: “Dunia tidak kekurangan pemimpin yang cerdas. Dunia hanya menunggu pemimpin yang berani berubah.”
Kalimat itu menutup buku dengan ketenangan, tapi juga tantangan. Sebab di akhir semua teori dan refleksi, pertanyaan terbesar tetaplah, "apakah kita sudah mulai memimpin diri kita sendiri?" **
Editor : Rony Sandhi