RADAR PALU – Dalam rangka meningkatkan kapasitas petani sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, PT Citra Palu Minerals (CPM) memperkuat program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) melalui pengembangan klaster pertanian cabai di Kelurahan Poboya, Kota Palu.
Program ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan yang sebelumnya diikuti oleh petani di Pusat Pembelajaran Pertanian Oloboju, Sigi.
Supervisor PPM-CSR PT CPM, Zulkifli Salingkat, mengungkapkan sebelumnya PT CPM mengirim perwakilan petani dari Kota Palu untuk mengikuti pelatihan di Kabupaten Sigi. Usai mengikuti pelatihan, petani tersebut kemudian memperaktekkannya kembali kepada kelompok-kelompok tani yang ada di Poboya.
“Hari ini para petani mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair (POC) dan arang sekam dari hasil pembelajaran sebelumnya. Harapannya, mereka bisa mengurangi biaya produksi karena semua bahan bisa diperoleh dari alam,” jelas Zulkifli, Rabu (2/10).
Selain pelatihan, CPM juga menyalurkan 10.000 bibit cabai jenis seret kepada tiga kelompok tani dengan luasan awal satu hektare.
“Kalau tahap pertama berkembang baik, kami akan dorong pengembangan yang lebih luas, hingga 3 sampai 5 hektare,” tambahnya.
Menurut Zulkifli, cabai dipilih karena pasarnya stabil, masa produksi panjang hingga 1,5 tahun, dan panen bisa dilakukan dua kali seminggu. Adapun bibir cabai yang dipilih yakni jenis bibit cabai Sret.
“Produk ini (cabai) massal, konsumsi tinggi, dan harga relatif bagus meski fluktuatif. Sehingga putaran uang petani lebih cepat,” ujarnya.
Program ini, lanjut Zulkifli, sudah diinisiasi sejak April 2025 dan melibatkan kolaborasi dengan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) serta Dinas Pertanian.
“Pendampingan dilakukan dari hulu sampai hilir, termasuk aspek pemasaran,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Mitra Poboya, Bantu, mengaku bersyukur atas dukungan perusahaan.
Dia juga mengaku dengan adanya pelatihan seperti ini dapat meningkatkan pengetahuan para petani sekaligus menekan biaya produksi.
“Kami diberi kesempatan ikut pelatihan di Sigi, belajar 12 materi, tapi memilih fokus pada cabai sesuai kondisi wilayah kami,” kata Bantu.
Baca Juga: Lari Pagi, Warga Palu Dikejutkan Penemuan Mayat di Sungai Jalan Raja Moili
Ia menjelaskan, kelompoknya saat ini mengelola lahan cabai seluas sekitar 1 hektare. Meski sebagian anggota beralih ke sektor tambang, kelompok kata dia tetap berupaya aktif mengembangkan pertanian.
“Kami berharap terus didampingi agar bisa mengatasi kendala utama, yaitu serangan hama. Dengan pengawasan BPP, kami yakin hasilnya lebih baik,” pungkasnya.
Melalui program ini, CPM menargetkan klaster cabai Poboya bisa menjadi sumber mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat sekitar sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal. (*)
Editor : Taswin