LAPORAN: Nur Soima Ulfa, Radar Palu
“Kami didzalimi, kami mau diusir sudah…,” kata-kata Shinta langsung terputus. Tangis tiba-tiba pecah dan tenggorokannya tercekat membuatnya berhenti berkata-kata.
Ada rasa sakit yang membuncah di dadanya. Nafasnya tak beraturan dan dadanya terlihat naik turun. Kembang-kempis. Dia menutup mukanya rapat-rapat dengan kain mukenanya yang bermotif bunga-bunga. Membenamkan wajahnya erat-erat di kedua tangannya. Itu dilakukannya agar suara tangisnya teredam.
Setelah beberapa menit berselang. Dia membuka tangannya, wajahnya terlihat. Secara refleks dia menghirup nafas panjang yang dalam. Berusaha menenangkan diri.
Sementara Muhammad Amin (8), adiknya, hanya bisa melihatnya dengan wajah khawatir bercampur bingung dari atas ranjang. Kaku, tidak bisa banyak bergerak. Kepalanya yang terus membesar akibat penyakit hidrosefalus, membuatnya kesulitan bergerak. Dia pun hanya bisa baring kiri dan kanan. Membalikan badannya pelan-pelan.
“Dulu waktu di kos Touwa (Jalan Touwa, red), pernah ada yang datang dari Puskesmas. Datangnya rame-rame, ba catat begitu. Ba tulis begitu. Tapi itu saja, satu kali datang,” sambung Shintia, saat ditanyakan soal pengobatan Amin.
Perempuan tamatan SMA itu bercerita bila kepala Amin membesar sejak lahir. Pernah saat Amin masih kecil seingatnya mendapatkan pengobatan di RSUD Undata sekali. Kala itu Amin diminta agar menjalani operasi untuk mengeluarkan cairan di kepalanya, namun karena kekhawairan ibunya terhadap keselamatan nyawa Amin, maka opsi itu tidak diambil keluarganya.
Penyakit Hidrosefalus yang diderita Amin, memang tidak bisa sembuh total. Penderita penyakit ini hanya bisa menjalani pemasangan saluran untuk mengalirkan kelebihan cairan di otak, sehingga diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Keluarga penderita Hidrosefalus akan merawat mereka seumur hidup.
Amin yang terlahir di keluarga yang serba kesusahaan secara ekonomi, memiliki peluang hidup yang tidak lebih beruntung dari penderita Hidrosefalus dari keluarga berkecukupan. Dia tidak memiliki akses perawatan medis ataupun hanya sekadar cek kesehatan rutin. Keluarganya tidak punya biaya. BPJS Kesehatan pun tak punya.
Akibatnya, Amin hanya bisa menghabiskan lebih banyak waktunya berbaring di ranjang busa tua tanpa penyangga. Di usianya yang menginjak 8 tahun itu, Amin hanya bisa berbaring ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya juga terlihat menekuk ke dalam dan kaku.
Lamanya Amin berbaring di kasur, bisa dilihat dari kempisnya kasur busa yang ditidurinya itu di bagian punggunnya. Betapa dalamnya ceruk yang terbentuk. Bisa terbayang bagaimana tidak nyamannya tubuh Amin yang seolah-olah “terisap” di tengah.
Menurut Shintia, terkadang Amin memintanya untuk duduk. Tapi itu tidak mudah. Shintia harus sigap menopang kepala Amin yang terus membesar dan berat. Lehernya yang kecil tidak kuat. Kondisi itu membuat Amin harus menerima nasib tidak bisa bermain layaknya bocah seusianya.
“Kalau dia mau jalan-jalan, saya ambilkan kursi roda. Saya dorong-dorong dia di dalam kos,” ujar anak perempuan satu-satunya ini.
Shintia kala itu terlihat galau. Bukan hanya soal penyakit adiknya dan tanggung jawabnya merawat Amin saban hari, tapi juga memikirkan nasib mereka beberapa hari ke depan. Sejak awal pekan ini, pemilik kos sudah kehabisan kesabarannya. Mereka terancam di usir.
Ayah Shintia, Mohammad Zein, gagal bayar kos selama lima bulan terakhir. Tunggakan kos sebesar Rp2,5 juta tidak bisa dia tebus. Inilah yang diduga memicu perlakukan tidak mengenakan dari pemilik kos terhadap dirinya dan adik-adiknya.
Di satu sisi, Shintia tidak bisa mendesak ayahnya. Sebab dia tahu betul ayahnya sedang berusaha mencari kerja agar mereka bisa tetap makan setidaknya sekali dalam sehari. Saat ini ayah Shintia harus menanggung adik laki-laki yang sekolah di SMK Pelayaran, yang juga butuh membeli kelengkapan seragam.
Sementara untuk mengurangi beban ekonomi keluarga, ibunya yang mualaf harus kembali ke kampung halamannya di Lembah Napu. Seingat Shintia, selama keluarganya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hanya sekali dari organisasi Islam setahun lalu.
“Datang ibu-ibu bercadar bawa bantuan untuk Amin. Selain itu tidak ada lagi,” ungkapnya.
Shintia pun sebenarnya tidak ingin hanya berpasrah dengan keadaan dan hanya menjaga Amin di rumah. Dia ingin bekerja apa pun yang penting halal. Dia tidak tahan lagi hanya bisa melihat ayahnya yang pontang-panting setiap hari keluar rumah untuk mencari uang.
“Kerja bantu-bantu di warung makan juga saya mau. Itu pekerjaan yang bisa saya kuasai. Yang penting halal,” ungkap Shintia lirih.
Sementara itu, Mohammad Zein tidak sedang berada di kos kala Radar Palu menjambangi kosnya yang berukuran kira-kira 5 meter kali 5 meter di Jalan Tanggul Sungai Palu, Kelurahan Tatura Selatan, Kecamatan Palu Selatan. Kosnya ini dekat dengan Jembatan II Palu, yang dulu suka ditongkrongi buaya berkalung ban.
Dia mengaku sedang bekerja di salah satu rumah di Jalan Kancil dengan upah harian. “Saya lagi bantu kerja, buat cari makan,” tulisnya via chat Whatsapp.
Dia pun mengungkapkan saat ini tidak sedang memilih-milih pekerjaan karena membutuhkan uang untuk menebus tunggakan sewa kos. Dia mengaku sudah tidak tahan mendengarkan ocehan pemilik kos menangih uang sewa. Dia hanya bisa menahan malu karena disaksikan oleh tetangga-tetangganya.
Saat ini Mohammad Zein bekerja serabutan. Bila mendapatkan kerja harian, dia bisa dapat upah Rp50 ribu. Uang itu dibelikannya beras dan sisanya untuk lauk. Tapi terkadang ada saja kebutuhan yang harus dibeli. Misalnya dua malam yang lalu Amin tiba-tiba demam. Dia harus membeli obat Pimacolin Plus Sirup 60 rasa apel ml, dengan HET Rp27.000 ribu.
“Kami tidak tahu nasib kami besok. Bagaimana dengan keadaaan kami seperti ini. Tidak ada lagi toleransi dari ibu haji (pemilik kos, red). Kami sudah diultimatum tegas, harus melunasi pembayaran kos Jumat besok (hari ini, red). Kasihan nasib anak saya yang sakit,” sambung Mohammad Zein.
Dia pun berharap ada dermawan yang mau meringankan anak-anaknya. Bahkan demi transparansi uang bantuan nanti, dia berharap dermawan yang bersangkutan langsung menyerahkan uang kepada pemilik kos. Saat ini dia hanya bisa berharap pertolongan Tuhan dan juga para dermawan yang mau terketuk hatinya.(*)
Editor : Nur Soima Ulfa