RADAR PALU - Menanggapi polemik dugaan diskriminasi berujung dikeluarkannya 5 siswa SMA Negeri 1 Petasia dibantah Kepala SMA Negeri 1 Petasia, Ningsih
Kepsek Ningsih membantah adanya diskriminasi. Ia menyebut kasus ini murni bullying terhadap guru dan sekolah sudah melakukan berbagai mediasi.
Menurutnya, keputusan bukan sepihak, melainkan hasil komunikasi bersama pihak terkait, termasuk PGRI dan pemerhati guru.
"Ini murni kasus bullying terhadap guru. Kami khawatir suasana belajar tidak kondusif jika mereka tetap dipaksakan kembali," ujar Ningsih, Senin (1/9/2025).
Terpisah, Kepala DP3A Morut, Alno Berniat, menegaskan pihaknya fokus pada hak pendidikan anak. Menurutnya, opsi pemindahan ke SMK adalah solusi sementara agar siswa tetap bersekolah.
"Prinsip utama kami adalah anak-anak harus tetap mendapat pendidikan, di mana pun itu," kata Alno.
Terkait dugaan diskriminasi karena SMAN 1 Petasia ditengara tidak menerapkan prosedur pembinaan, DP3A Morut juga menanyakan tahapan tersebut.
"Orang tua murid menilai prosedur sekolah tidak transparan, kami juga menanyakan apa benar sekolah melakukan pembinaan, sebab putusan mengeluarkan siswa itu bukan perkara mudah," sebut Alno.
Sementara itu guru Kimia SMK Negeri 1 Petasia, Eni Ruben terkait kasus ini tidak merespon upaya konfirmasi wartawan.
Para orang tua telah mengadukan persoalan ini ke Komisi I DPRD Morut. Hal ini dibenarkan Wakil Ketua Arman Purnama Marunduh.
"Surat pengaduan resmi sudah kami terima. Selanjutnya kami akan menggelar rapat dengar pendapat terkait dikeluarkan lima siswa SMA Negeri 1 Petasia," ujar Arman Marunduh. (ham)
Editor : Rony Sandhi