RADAR PALU Jawa Pos Grup - Sekira 17 tahun yang lalu atau tahun 2008, desa Bahodopi, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah hanyalah kampung nan sepi. Kawasan tersebut masuk jalur Trans Sulawesi atau lintas batas menuju perbatasan Provinsi Sulawesi Tenggara. Bagi yang melintas pada waktu tersebut yang ada hanya kesan sepi dan sunyi karena wilayah tersebut masih diselimuti hutan.
Di balik desa nan sepi dan hutan belantara Desa Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia ternyata menyimpan 'harta karun' berupa bahan baku nikel. Bahan baku ini biasa digunakan manusia mulai dari peralatan dapur, alat medis, inovasi teknologi hingga penerbangan luar angkasa.
Desa Bahodopi berubah seiring hadiranya perusahaan tambang nikel asal Tiongkok yakni, Tsingshan Group bekerja sama dengan PT Bintang Delapan Investama mendirikan PT Sulawesi Mining Investment (SMI) di Indonesia pada tahun 2009.
Nama Kabupaten Morowali khususnya desa Bahodopi mulailah jadi perbincangan tingkat lokal, nasional hingga internasional setelah wilayah tersebut masuk kawasan pertambangan yang dipilih perusahaan raksasa asal Tiongkok tersebut.
Aktivitas pertambangan saat itu, sempat jadi sorotan miring para penggiat lingkungan terkait pencemaran dan limbah perusahaan yang mengekspor bahan baku mentah. Apalagi bahan baku nikel saat itu dikeruk dari perut bumi Bahodopi dan diangkut keluar menggunakan kapal-kapal bertonase besar.
Bulan berganti tahun nama Kabupaten Morowali, Provinsi Sulteng saat itu citranya buruk akibat sistem pertambangan bahan mentah nikel di ekspor dari perut bumi Morowali dengan semboyan atau slogan “Bumi Tepe Asa Maroso" yang memiliki arti "Bersatu Kita Teguh".
Tidak ingin citra buruk berlarut, PT SMI sebagai cikal bakal pertambangan mulai melakukan pengembangan terhadap tambang nikel seluas hampir 47.000 hektar di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
"Kemudian, dibuat kesepakatan diantara perusahaan- perusahaan tersebut untuk mendirikan pabrik di Bahodopi, Morowali," demikian urai Humas PT IMIP Dedi Kurniawan kepada Radar Palu Jawa Pos Grup saat menjelaskan cikal bakal kawasan PT IMIP, ditemui bulan Juli 2025 lalu.
Cerita Dedi—demikian disapa, pada bulan Juli 2013, kedua mitra tersebut menanamkan tiang pancang (groundbreaking) pembangunan pabrik pemurnian nikel di Morowali.
Awal pendirian kawasan IMIP ditandatangani Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Cina Xi Jinping di Forum Bisnis Indonesia-Cina di Jakarta pada 3 Oktober 2013.
Selanjutnya pada 29 Mei 2015, Kawasan Industri IMIP diresmikan Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi.
Hilirisasi Industri Munculkan Ekonomi
Tahun 2015 semenjak Pemerintah mengharuskan industri hilirisasi menggunakan smelter nama Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah berubah jadi magnet ekonomi lokal hingga mendunia.
Para investor dan tenaga kerja lokal maupun luar (TKA) berbondong-bondong mengadu nasib demi cuan di Kawasan Industri terbesar di Asia Tenggara itu. Terlebih kawasan tersebut masuk objek vital nasional dan diberi nama kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Potensi sumber daya alam (SDA) khususnya bahan baku nikel di desa Bahodopi Kabupaten Morowali diakui dunia. Hal tersebut juga dibenarkan Direktur Komunikasi PT IMIP, Emilia Bassar kepada Radar Palu, jawapos grup di sela-sela kegiatan media gathering, Juli 2025 lalu.
Katanya, Indonesia memiliki kawasan industri nikel raksasa yang mengolah 'harta karun' mineral mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Kawasan ini adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang berada di desa Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dengan produksi jutaan metrik ton per tahunnya.
Emilia Bassar saat kunjungan di lapangan juga menjelaskan kawasan PT IMIP bisa memproduksi 3,9 juta metrik ton Nickel Pig Iron (NPI) pertahunnya, stainless steel dan carbon steel masing-masing 6 juta ton per tahun.
Selanjutnya, ada 10 persen untuk bahan baku EV (electronic vehicle). Ini salah satunya Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebesar 270 ribu metrik ton, dan nickel matte 40 ribu metrik ton, dan ada turunan lainnya.
Kawasan PT IMIP bukan hanya mengubah ekonomi daerah Sulawesi Tengah namun juga menjadi contoh konkret bagaimana hilirisasi mampu mengubah struktur industri mineral. Saat ini kawasan IMIP sebagian besar memproduksi stainless steel dan carbon steel.
Dengan hilirisasi nikel di kawasan ini, maka tercipta nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi dan magnet ekonomi regional untuk masa depan Sulawesi Tengah.
"Bahan mentah yang semula diekspor, kini menghasilkan satu produk yang ada turunannya. Produk turunanya ini nilai tambahnya tinggi," sebut Emillia yang juga konsultas PR BUMN sambil menunjukan kawasan IMIP yang terintegrasi itu.
Untuk diketahui kawasan industri IMIP ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 2019.
Kawasan industri IMIP terintegrasi dengan produk utama yang dimiliki berupa nikel, stainless steel, carbon steel, dan yang terbaru adalah bahan baku baterai kendaraan listrik (electronic vehicle).
PT IMIP juga memiliki industri pendukung,mulai dari coal power plant, pabrik mangan, silikon, chrome, kapur, kokas, dan lainnya, hingga fasilitas penunjang lain di antaranya pelabuhan dan bandara.
PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) telah membawa dampak signifikan pada perekonomian lokal daerah Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.
Berdasarkan data Pemkab Morowali bahwa, ekonomi sekitar kawasan perusahaan menunjukkan pengaruh positif dengan hadiranya kawasan PT IMIP.
Baca Juga: Imbas Kasus Balita Viral, Obat Cacing Albendazole Langka di Apotek Kota Palu
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Morowali meningkat signifikan dari Rp 388,80 juta pada tahun 2020 menjadi Rp 1,3 miliar pada tahun 2024.
Demikian juga penyerapan tenaga kerja bahwa, hadirnya kawasan PT IMIP telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja lokal, dengan jumlah karyawan mencapai 85.423 orang pada awal Mei 2025.
Selain itu, Kehadiran PT IMIP telah melahirkan peluang usaha baru, seperti katering, transportasi, laundry, barbershop, hotel, dan perdagangan serta menjamurnya agen atau kios perbankan.
Salah satu usaha kuliner di sekitar kawasan PT IMIP yang bisa dipanggil bang Dul menjelaskan bahwa, warung lesehannya dibuka selama 24 jam guna memenuhi permintaan para kayawan kawasan PT IMIP yang operasi 24 jam.
‘’Karyawan di kawasan PT IMIP dibagi tiga shif dan masing-masing delapan jam kerja,’’ sebut bang Dul diamini para pekerja yang sedang menunggu hidangan.
Sementara PT IMIP juga memberikan kontribusi pajak, royalti, dan retribusi yang signifikan bagi daerah dan negara, yang digunakan untuk pembangunan fasilitas publik.
Dampak lainnya bahwa hadir PT IMIP juga adanya Pembangunan infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, jalan, dan jaringan listrik oleh IMIP telah membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Saat ini menuju Kawasan PT IMIP sangat mudah karena jalur Trans Sulawesi terus diperbaiki alias berbenah.
Yang jelas kehadiran PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) telah mengubah lanskap perekonomian lokal, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah dengan positif.
Dampak berlipat (multiplier effect) kehadiran kawasan industri terlihat dari bergeraknya finansial yang tak hanya mengerek nilai ekspor nikel ke pasar dunia, namun juga menghidupkan ribuan usaha rakyat, menyerap puluhan ribu tenaga kerja, sekaligus mendongkrak pendapatan daerah.
Data Pemerintah Kabupaten Morowali merinci, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita atas dasar harga berlaku sejak tahun 2020 hingga 2024 di daerah ini, terus memperlihatkan kenaikan.
Tahun 2020, PDRB per kapita tercatat Rp 388,80 juta dan pada 2024 sudah mencapai Rp 1,3 miliar. Kenaikan angka PDRB per kapita Morowali yang melambung signifikan ini disebabkan beberapa faktor.
Mulai dari nilai komoditas ekspor khususnya logam dasar yang meningkat hingga pengaruh inflasi pada hampir seluruh lapangan usaha.
Humas atau Media Relations Head PT IMIP, Dedy Kurniawan, menjelaskan meskipun tahapan pembangunan sudah dimulai sejak 2013 namun operasional penuh kawasan industri ini baru pada tahun 2015. Kini, puluhan ribu pekerja lokal turut terlibat dalam rantai produksi, mulai dari smelter hingga logistik.
Katanya, sejak beroperasi, IMIP telah menjadi magnet investasi, khususnya di sektor hilirisasi nikel dan energi pendukung. Pembangunan infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, jalan dan jaringan listrik yang kami lakukan juga turut membuka akses ekonomi lebih luas termasuk kepada masyarakat.
Semuanya menjadi daya ungkit dalam menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan. Dengan efek ganda yang ditimbulkan, PT IMIP kini bukan sekadar simbol hilirisasi industri nikel Indonesia, tetapi juga tumpuan pertumbuhan ekonomi regional yang terus terpacu dinamis.
Konektivitas yang semakin baik juga membuat distribusi barang lebih lancar, sekaligus memperkuat daya saing daerah Sulawesi Tengah dalam menarik investor baru di sektor non-nikel.
Dari sisi fiskal, kontribusi pajak, royalti dan retribusi dari aktivitas PT IMIP menjadi sumber pendapatan signifikan bagi daerah maupun negara. Dana ini kemudian menopang pembangunan fasilitas publik, mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, hingga perbaikan sarana umum.
Berikut contoh kecil bagaimana kawasan PT IMIP mengubah citra positif Sulawesi Tengah. PT IMIP berhasil mengolah limbah slag nikel menjadi material konstruksi bernilai tinggi seperti batako dan paving. Produksi batako mencapai 16.000 unit per hari, sedangkan paving mencapai 24.000 unit per hari.
Dengan demikian, PT IMIP telah membawa perubahan positif bagi Sulawesi Tengah, tidak hanya dalam hal ekonomi tetapi juga dalam pembangunan infrastruktur dan inovasi teknologi.
Dengan fasilitas canggih dan teknologi terbaru, Kawasan Industri IMIP berdedikasi untuk mengolah sumber daya nikel yang melimpah menjadi produk berkualitas tinggi yang mendukung industri global.
Kawasan PT IMIP tidak hanya berfokus pada efisiensi dan inovasi, tetapi juga keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan. IMIP mengubah potensi alam menjadi kemajuan nyata dan berdampak positif bagi masa depan Sulawesi Tengah.
Pertumbuhan Ekonomi Sulteng
Kawasan IMIP mendukung peningkatan nilai Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Morowali, dengan pertumbuhan sebesar 7,68 persen dari 2022 ke 2023 dan 10 persen dari 2023 ke 2024.
Pihak perbankan hadir di Kawasan PT IMIP bak jamur di musim hujan. Mereka berlomba-lomba menggaet nasabah dari berbagai program unggulan masing-masing bank.
Salah satunya bank Mandiri. Bank BUMN itu memiliki program "Racing Transaksi" untuk pengguna Livin' by Mandiri di kawasan IMIP, yang memberikan reward kepada nasabah dengan transaksi terbanyak.
Program ini dilakukan seiring peningkatan jumlah UMKM di Kecamatan Bahodopi meningkat 4,1 persen dari 7.318 unit pada tahun sebelumnya menjadi 7.643 unit pada Maret 2025, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 16.705 orang.
Sementara Peningkatan Kualitas Hidup (PKH) tumbuh dengan hadirnya kawasan PT IMIP. Skor indeks pembangunan manusia (IPM) di Morowali meningkat dari 73,39 pada 2022 menjadi 74,36 pada 2024, dengan tingkat kemiskinan menurun dari 12,58 persen menjadi 11,55 persen dan tingkat pengangguran terbuka sebesar 2,84 persen.
Merujuk data terbaru Bank Indonesia Provinsi Sulteng per April 2025, pertumbuhan nilai PDRB Morowali dari 2022 ke 2023 sebesar 7,68 persen. Kemudian meningkat kembali sebesar 10 persen dari Rp158,04 triliun pada 2023 menjadi Rp173,86 triliun pada 2024.
Kondisi itu dilatarbelakangi keberlangsungan sektor industri pengolahan yang berkembang pesat di Morowali, khususnya kawasan IMIP. Salah satu indikatornya adalah jumlah tenaga kerja di kawasan IMIP yang terus bertambah dari tahun ke tahun.
Dari data per 3 Mei 2025 jumlah tenaga kerja Indonesia di kawasan IMIP mencapai 85.423 orang atau meningkat 2,3 persen dibandingkan 2024 yang sebanyak 83.272 orang. Data ini belum termasuk jumlah buruh alih daya perusahaan kontraktor.
Jika menghitung potensi dari perputaran uang yang beredar di Bahodopi, jumlahnya terbilang cukup fantastis. Berdasarkan ketetapan Dewan Pengupahan Kabupaten Morowali, UMSK 2025 sebesar Rp3.957.673.
Jika dikalikan dengan jumlah karyawan di Kawasan IMIP saja, ada Rp338 miliar per bulan uang yang terus berputar di Bahodopi. Dan angkanya tentu saja terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah karyawan di kawasan itu.
Berdasarkan data Kas Titipan Bank Indonesia di Bungku Tengah, ibukota Kabupaten Morowali, BI Provinsi Sulteng mencatat bahwa sepanjang tahun 2022 hingga 2024, nilai outflow (jumlah uang yang dibelanjakan) jauh lebih besar dibandingkan inflow (jumlah uang yang disimpan).
Adapun nilai net outflow (selisih antara uang masuk dan uang keluar untuk area Morowali) fluktuatif, berturut-turut Rp2,05 triliun pada 2022, meningkat menjadi Rp2,54 triliun pada 2023, dan sedikit menurun ke Rp2,31 triliun pada 2024.
Salah satu karyawan PT Dexin Steel Indonesia (DSI), Yusuf Mekuo asal Muna, Sulawesi Tenggara menjelaskan, dari gaji bulanan yang diterima setiap awal bulan, dia lebih memprioritaskan untuk ongkos kebutuhan konsumsi pribadi (sekitar 37,5 persen) dan mentransfer ke orangtua dan adiknya di kampung (25 persen).
Sementara sisanya baru akan ditabung setelah dipakai untuk menutupi bermacam kebutuhan tak terduga. Kebutuhan konsumsi pribadi Yusuf total rerata Rp4.500.000 setiap bulan, meliputi ongkos sewa kos, makan-minum, transportasi, dan belanja bulanan.
Hilirisasi Pendidikan
Kawasan PT IMIP juga memiliki pendidikan terintegrasi. Mulai jenjang TK, SD, SMP, dan Politeknik Industri Logam Morowali (PILM). Politeknik IMIP mememiliki beberapa program studi yang relevan dengan industri logam dan pertambangan seperti, Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Metalurgi.
Sultan salah satu mahasiswa asal Soppeng, Sulawesi Selatan kepada Radar Palu mengatakan, salah satu tugas akhir adalah membuat forklip mini pesanan dari tenant PT IMIP. Kata Sultan saat ditemui di ruang praktik 8 Juli 2025 lalu bahwa, alat bantu angkat atau pindahkan barang ini memiliki kapasitas beban yang lebih kecil dibanding forklip yang standar.
Sekolah terintegrasi PT IMIP dibangun di Desa Padabaho, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Sekolah tersebut bagian contoh hilirisasi pendidikan di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.
Kontribusi Sosial
PT IMIP telah menerima empat penghargaan pada ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2025 sebagai bukti komitmen perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan.
Empat penghargaan tersebut yakni, gold untuk kategori biodiversity conservation dan rehabilitasi terumbu. Silver untuk CSR video documentation dengan tema local hero kelompok tani Berkah Mombula. Dua bronze di kategori edukasi, untuk rumah literasi IMIP serta gender equality and social inclusion, terkait bank sampah KSM Ara Sinergi Berdaya.
Dengan berbagai inisiatif dan kontribusinya, PT IMIP berpontensi membawa Sulawesi Tengah menuju masa depan yang lebih gemilang, tidak hanya dalam hal ekonomi tetapi juga dalam pembangunan sosial dan pendidikan.
Dengan demikian, PT IMIP dapat menjadi katalisator pembangunan berkelanjutan di Sulawesi Tengah.
Demi masa depan Sulawesi Tengah, Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, telah memperjuangkan Dana Bagi Hasil (DBH) yang lebih adil bagi daerahnya.
Keluhan Gubernur Anwar tentang ketimpangan DBH diungkapkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPR RI.
Sulawesi Tengah katanya, hanya menerima sekitar Rp 200 miliar per tahun dari DBH, meskipun kontribusi pajak dari industri smelter mencapai Rp 570 triliun.
Anwar Hafid menyoroti beberapa masalah terkait DBH, antara lain; Pajak hanya diberlakukan di "mulut tambang", bukan di "mulut industri", sehingga nilai tambah dari pemurnian hasil tambang tidak tercatat di daerah.
Harapan Gubernur Anwar Hafid mulai membuahkan hasil, dengan Bappenas yang meminta Pemprov Sulawesi Tengah menyusun kajian resmi sebagai langkah awal pembahasan kebijakan DBH yang lebih adil di tingkat nasional.
Perjuangan Gubernur Sulteng Anwar Hafid juga jadi harapan masyarakat pada umumnya agar kawasan PT IMIP selain bagian dari magnet ekonomi global menjadi harapan dan masa depan Sulawesi Tengah. ***
Editor : Talib