PALU-Pengamat Kebencanaan Sulteng, Ir Drs Abdullah MT, meminta warga di sekitar Danau Poso agar mewaspadai keberadaan Sesar Matano. Di mana sesar yang berada di selatan Danau Poso ini adalah sesar aktif dan belum pernah terjadi gempa besar berskala 7 M.
Peringatan ini mengikuti kejadian gempa berskala 5,6 M di Kecamatan Pamona Tenggara pada Kamis malam (24/7/2025). Menurut Abdullah, gempa ini sudah tidak perlu dicemaskan lagi. Meskipun menurutnya gempa susulan dengan magnitude yang lebih kecil masih terjadi ratusan kali hingga Sabtu sore ini (27/7/2025).
“Warga sudah bisa pulang ke rumah. Tidak perlu cemas lagi,” katanya via telepon kepada Radar Palu.
Kepala Laboratorium Palu-Koro FMIPA UNTAD ini justru mengimbau warga dan pemerintah setempat untuk mewaspadai keberadaan Sesar Matano. Di mana sesar ini menurutnya selevel dengan sesar Palu-Koro. Bila terjadi gempa besar yang mencapai 7 M, maka dia pun memprediksi kerusakan yang terjadi di Kota Palu pada 28 September 2018 bisa jadi dialami oleh warga di sekitar selatan Danau Poso.
Ketika disinggung apakah Sesar Matano bisa akibatkan tsunami di Danau Poso, Abdullah membenarkan. Sebab luasan Danau Poso disebutkan Abdullah mencapai satu setengah kali lipat lebih besar dari Teluk Palu. Sementara Sesar Matano ini memiliki energi satu kelas dengan Sesar Palu-Koro. Jauh lebih besar dari aktivitas sesar di Timur Danau Poso yang menyebabkan gempa gempa berskala 5,6 M di Kecamatan Pamona Tenggara.
“Bisa saja terjadi (tsunami, red). Seperti yang saya bilang tadi bahwa Danau Poso itu luasnya satu setengah kali dari Teluk Palu,” ungkapnya.
Mantan anggota Tim Ekspedisi Poso itu menerangkan bahwa Danau Poso merupakan danau tektonik dengan berapa sesar aktif di sekitarnya. Selain sesar aktif di Timur danau, ada juga Sesar Malei yang melintang dari Utara ke Selatan di jalur Tentena dan Lemba Bada. Sesar Malei ini terdapat di sisi Barat danau.
Sementara di Selatan Danau Poso, terdapat Sesar Matano yang masih aktif hingga kini dan belum pernah mengalami gempa besar dalam era modern ini. Tetapi Abdullah memprediksi pernah terjadi gempa besar ratusan tahun lalu, tetapi tidak tercatat dalam sejarah. Berdasarkan sifat gempa yang memiliki siklus berulang, maka Abdullah memperingati agar mewasapadai aktivitas Sesar Matano di masa depan.
“Saat Ekspedisi Poso lalu, saya menemukan di Desa Banchea ada patahan yang dulu adalag dataran kini menjadi area dasar danau. Ini bisa jadi bukti (gempa besar, red) di masa lalu. Tetapi tidak tercatat kapan dan berapa besarannya,” tandas Abdullah.(uq)
Editor : Nur Soima Ulfa