RADAR PALU – Sepuluh tahun yang lalu sejak diresmikan Presiden RI ke 7 Joko Widodo pada Mei 2015, kawasan industry atau Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) berkembang pesat.
Kawasan tersebut sebelumnya sebuah desa dikelilingi hutan dan sunyi. Hanya dalam waktu 10 tahun berubah total dan disulap menjadi Kawasan industry hilirasasi terintegrasi dengan sarana terlengkap bahkan terbesar di Asia Tenggara.
Hilir mudik kendaraan bertonase berat termasuk bus-bus para karyawan membuktikan bahwa kesibukan di kawasan pertambangan hilirisasi di desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah tidak pernah berhenti dan terus beroperasi 24 jam.
Baca Juga: PNM Palu Perpanjang Program Ruang Pintar di Desa Towale
Dirut Operasional PT IMIP Irsan Wijaya berharap dengan kehadiran rekan-rekan wartawan di Kawasan PT IMIP dapat menyajikan informasi yang berimbang dan proporsional sesuai tagline, Menjejak Industri, Merajut Narasi Berkualitas.
"Saya senang bisa bertemu kawan-kawan wartawan. Selama dua hari di sini akan dipandu tim kami mengelilingi Kawasan IMIP. Kami transparan dan berharap pemberitaan yang berimbang agar masyarakat mendapat informasi yang berkualitas," demikian sambutan Dirut Irsan Wijaya yang saat itu didampingi Direktur Komunikasi PT IMIP, Emilia Bassar bersama Media Relation, Dedi Kurniawan pada Minggu, 6 Juli 2025.
Ditambahkan Emilia Bassar bahwa PT IMIP memiliki Kawasan kurang lebih dari 2.000 hektar. Sebagai cikal-bakal industri yang pertama beroperasi di Kawasan IMIP adalah PT Sulawesi Mining Industri (SMI).
Perusahaan tersebut bergerak di bidang pertambangan dan pengolahan nikel. PT SMI juga memiliki smelter yang digunakan mengolah bijih nikel menjadi produk yang lebih bernilai tambah.
‘’PT SMI dimiliki oleh Tsingshan Group raksasa smeltel asal Tiongkok dan beroperasi di Indonesia pada 2014,’’ sebut Dedi Kurniawan menambahkan pada kegiatan tersebut.
Dari 50-an perusahaan atau tenant yang ada di kawasanan PT IMIP kata Dirkomunikasi, Emilia Bassar sebanyak 30 tenant yang sudah beroperasi secara rantai industry karena saling mendukung bahan baku maupun teknologi. Adapun sisanya disebut masih dalam tahap penuntasan konstruksi.
Baca Juga: DPRD Tanggapi Enam Ranperda yang Diajukan Pemerintah Kabupaten Morowali
‘’Mobil besar yang memuat tunggu panas bagian sirkulasi industry terintegrasi dan saling mensuport. Semua bahan baku di Kawasan PT IMIP bisa dimanfaat oleh tenant-tenant yang lain,’’ ungkapnya sambil menunjuk ke arah dump truk bertonase berat itu.
Masih kata Emelia Bassar, sejak tahun 2024 dan sesuai program pemerintah berkaitan hilirisasi tambang, semua tenant yang beroperasi di Kawasan PT IMIP didorong untuk ramah lingkungan, pengurangan emisi karbon termasuk energy baru terbarukan.
Sedikitnya ada enam perusahaan yang beroperasi di kawasanan PT IMIP dilakukan sidak langsung sejumlah wartawan guna memastikan perlindungan tenaga kerja hingga perusahaan menjalankan program pemerintah Indonesia yang ramah lingkungan.
Baca Juga: Penemuan Jenazah di Desa Lemusa Parimo Bikin Geger Warga
Keenam perusahaan tersebut yakni, PT SMI yang menjadi cikal bakal pengolahan ore jadi nikel, PT GCDMR yang mengolah bahan baja hitam, PT IRNC yang mengolah baja putih (bahan stainless). PT HCAI yang mengolah Electrolytic Aluminum dan Anoda dan PT DSI yang mengolah besi dan rolling baja.
Yang menarik dalam Kawasan PT IMIP juga dibuatkan museum oleh PT QMB. Dalam museum tersebut juga dijelaskan bahwa hampir semua peralatan yang digunakan manusia di dunia sebagian besar menggunakan bahan baku nikel.
Mulai dari peralatan dapur, peralatan kesehatan hingga teknologi roket luar angkasa. Bahan bakunya ternyata sebagian besar ada di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Baca Juga: Bupati Parimo Janji Tutup PETI Desa Kayuboko, Buntut Bencana Banjir dan Lumpur di Desa Air Panas
Kawasan PT IMIP yang dirancang dengan fasilitas lengkap dan terintegrasi mulai dari Pelabuhan laut dan bandar udara memungkinkan semua tenant dari berbagai manca negara tertarik dengan kekayaan alam yang ada di bumi dengan semboyan,'Tepeasa Maroso'.
Deyut kehidupan di Kawasan tersebut berubah selang 10 tahun terakhir (2015-2025) menjadi super sibuk alias 24 jam beroperasi.
Untuk yang pernah bermalam di Kawasan PT IMIP atau Tsingshan Wisma akan melihat langsung kesibukan perusahaan, tenagakerja dan lalulintas memuat hasil hilirisasi yang sudah dipraktikan di Kawasan PT IMIP Sulawesi Tengah.
"Musibah atau kejadian kecelakaan kerja yang terjadi di kawasan PT IMIP misalnya tidak mempengaruhi operasional perusahaan lain dan tetap beroperasi. Masing-masing perusahaan dipantau oleh CCTV selama 1 kali 24 jam nonstop," demikian Humas PT IMIP, Dedi Kurniawan di sela-sela kunjungan ke lapangan di kawasan PT IMIP. ***
Editor : Talib