RADAR PALU - Upaya pelestarian warisan budaya di Sulawesi Tengah terus mendapat ruang dan dukungan dari berbagai pihak.
Salah satu satunya datang dari kolaborasi Hasan Bahasyuan Institute (HBI) dan grup musik lokal The Mangge, yang bakal menggarap proyek bertajuk Artribute Hasan Bahasyuan.
Proyek ini bertujuan untuk regenerasi dan pelestarian pengetahuan lokal melalui kerja kreatif, edukatif, dan pertukaran budaya lintas generasi.
Baca Juga: Gaji P3K Donggala Hanya Bisa Dibayar Sampai September 2025
Dalam proyek tersebut, The Mangge akan merilis ulang tujuh lagu karya maestro seni budaya Sulawesi Tengah, Hasan Bahasyuan, dalam format aransemen baru yang lebih modern namun tetap menghormati akar budayanya
Proyek ini turut didukung penuh oleh Fathur Razaq, putra Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, yang bertindak sebagai Ekskutif Produser.
Fathur sendiri memang dikenal sebagai sosok pemuda yang aktif mendorong berbagai potensi lokal di daerahnya, termasuk sektor budaya.
Baca Juga: Gaji P3K Donggala Hanya Bisa Dibayar Sampai September 2025
“Sulawesi Tengah memiliki banyak kekayaan intelektual yang luar biasa. Untuk itu, hadirnya proyek Artribute Hasan Bahasyuan ini adalah satu upaya untuk memperkenalkan kebudayaan yang ada di Sulawesi Tengah ke luar daerah,” ungkap Fathur.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas karya kreatif lokal.
“Kita juga mau meningkatkan kualitas-kualitas karya di Sulawesi Tengah,” bebernya.
Sementara itu, Direktur HBI Zulfikar Usman menyebutkan bahwa dalam proyek ini terdapat tujuh lagu legendaris yang akan diaransemen ulang, yaitu Palu Ngataku, Randa Ntovea, Kaili Kana Ku Tora, Putri Balantak, Posisani, Poiri Ngoviana, dan Salandoa.
“Karya Hasan Bahasyuan sangat penting dalam perkembangan seni budaya kita. Ini adalah spirit agar kita di zaman sekarang bisa lebih kreatif, namun tetap mengakar,” jelas Zulfikar.
Dari sisi teknis, Rian, gitaris dari The Mangge, menjelaskan bahwa proses rekaman akan dimulai pada 12 Juni 2025 dan melibatkan banyak pihak, termasuk sanggar seni serta orkestra dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah.
“Proses 23 hari rekamannya. Prosesnya ada di luar dan di dalam kota. Jadi karena di sini (Kota Palu) masih ada keterbatasan, makanya sebagian kita proses rekaman di luar kota,” ujarnya.
Baca Juga: Gubernur Anwar Hafid Hentikan Tambang Sigi: Dua Izin Dicabut Demi Selamatkan Lingkungan
Dengan semangat kolaboratif dan dorongan kuat dari generasi muda, proyek Artribute Hasan Bahasyuan diharapkan menjadi jembatan untuk menghadirkan kembali karya-karya besar ke tengah masyarakat khususnya pada lintas generasi. (win)
Editor : Taswin