RADAR PALU – Tiga kasus dugaan pembunuhan di wilayah hukum Polda Sulteng masih menjadi misteri karena belum juga terungkap.
Polda Sulteng dan jajaran mengklaim sedang berupaya untuk mengungkap pelaku dan motif tigas kasus tersebut.
Ke tiga kasus tersebut yakni, kasus dugaan pembunuhan seorang siswa SMA di Kabupaten Poso inisial SA alias Caca (16).
Korban ditemukan tewas di kamar kosnya, Senin 21 Oktober 2024, dengan kondisi mengenaskan dengan tertancap sebilah pisau di lehernya.
Bahkan Polres Poso sudah melakukan berbagai upaya penyelidikan mulai dari pemeriksaan sekitar 17 saksi sampai pengambilan sampel DNA orang terdekat dan para saksi-saksi lainnya. Hasil tes DNA sudah dikirim ke laboratorium forensic namun belum juga ada perkembangan kasusnya.
Kapolres Poso sebelumnya AKBP Arthur Sameaputty kala itu mengungkapkan, pihak penyidik reskrim Poso sudah memeriksa 17 orang saksi, beberapa yang diperiksa termasuk pacar korban, teman dekat korban, ada juga pengunjung yang ke TKP dan saksi lainnya.
Saat ini Polres Poso sudah dijabat Kapolres baru yaitu, AKBP Alowisius Londar yang diharapkan bisa segera mengungkap kasus pembunuhan pelajar berusia 16 tahun yang sudah berjalan hamper 8 bulan.
Warga Tokorondo Tewas Ditembak
Kasus kedua adalah tewasnya seorang pria bernama Jumardi, warga Desa Tokorondo. Korban diduga tewas terkena tembakan dari orang tak dikenal (OTK), pada Kamis 15 Mei 2025.
Kabar yang beredar di rekan-rekan media di Palu, hasil rongseng diduga terdapat sebutir proyektil bersarang di dada kiri. Sebelum tewas pada Kamis 15 Mei 2025, korban Jumardi mengendarai sepeda motor dari arah Tokorondo menuju Dusun Tolana Desa Toini untuk mejemput istri Siti Ramadani.
Dalam perjalanan menjemput istri, korban tiba-tiba membelokkan sepeda motornya masuk di sebuah halaman Rumah Makan Dua Putri di Desa Lape Kecamatan Poso Pesisir. Berdasarkan keterangan saksi di lokasi kejadian, korban terlihat langsung menabrakan sepeda motornya ke kursi dan kemudian tersungkur di sebelah motornya.
Kapolres Poso Kapolres Poso AKBP Alowisius Londar yang dihubungi via pesan WhatsApp mengatakan, kasus kematian warga desa Tokorondo ditangani serius.
"Sedang dilakukan uji balistik dan dalam waktu dekat hasilnya akan keluar. Keluarga korban diminta tetap bersabar," kata Kapolres.
Sebelumnya Kapolda Sulteng, Irjen Pol. Dr. Agus Nugroho melalui Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Djoko Wienartono, dalam keterangan persnya di Palu menyebut adanya temuan proyektil di tubuh korban Jumardi dan mengindikasikan bahwa korban diduga terkena tembakan senjata api.
Djoko Wienartono belum bisa memastikan apakah Jumardi meninggal karena tertembak.
“Adanya proyektil yang ditemukan di tubuhnya. Indikasi awal mengarah pada senjata api. Kami masih menunggu hasil resmi dari autopsi dan uji balistik. Penyelidikan masih berjalan,” ujar Djoko.
Warga Balut Tewas Diduga Alami Kekerasan
Kasus ketiga seorang pria berusia 20 tahun bernama Rian Nugraha Harun (20), pemuda asal Banggai Laut (Balut) yang akrab disapa Beckham, Minggu, 11 Mei 2025 tewas, usai dibawa oleh sejumlah anggota Satuan Narkoba Polres Banggai Kepulauan (Bangkep).
Informasi yang diterima redaksi Radar Palu, peristiwa awalnya bermula saat Beckham diminta mengantar beras ke kios keluarga di Pasar Tua, Banggai.
Setelah sempat pergi karena menerima telepon, ia kembali dalam kondisi lemas dan dibonceng dua anggota polisi.
Menurut beberapa saksi, korban saat diantar kedua anggota kepolisian sudah dalam kondisi lemas. Bahkan ia sempat mengeluh sakit kepala dan perut, tetapi dituduh berpura-pura dan dituding membawa sabu oleh aparat.
Beckham akhirnya dilarikan ke RSUD Banggai Laut dan dinyatakan meninggal pukul 21.45 WITA.
Saat keluarga memandikan jenazah, ditemukan memar mencurigakan di tubuh korban.
Kuasa hukum keluarga, Irfan Bungadjim dari Aliansi Advokat Banggai Bersaudara, menilai kematian korban tidak wajar dan menyatakan motor korban tidak rusak dan lokasi kejadian hanyalah lorong sempit.
Keterangan pihak kepolisian yang mengklaim korban tewas akibat kecelakaan tunggal, namun dibantah oleh keluarga menilai hal itu tidak wajar.
Sampai dengan saat ini pihak kepolisian khususnya Polda Sulteng belum memberikan keterangan perkembangan dari penyelidikan tiga kasus pembunuhan tersebut.
Komnas HAM Akan Turunkan Tim
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Sulteng menyatakan menjadikan tiga kasus tersebut sebagai atensi, sehingga dalam waktu dekat Komnas HAM Sulteng akan menurunkan tim ke Kabupaten Poso dan Banggai Kepulaua.
Ketua Komnas HAM Sulteng, Livand Breemer melalui sambungan telepon pekan lalu mengatakan, setelah melakukan evaluasi beberapa kasus yang ditangani Polda Sulteng ada tiga kasus yang menjadi perhatian Komnas HAM Sulteng, yaitu kasus meninggalnya seorang siswi di Poso yang diduga dibunuh. Kasus meninggal seorang pria di Poso yang diduga menjadi korban tertembak dan kasus meninggalnya seorang pria di Kabupaten Banggai Laut.
“Ketiga kasus ini dugaannya pembunuhan, namun belum jelas pengungkapannya. Kami segera menurunkan tim investigasi ke dua titik dengan tiga kasus kematian yang menurut banyak pemberitaan tidak wajar dan belum ada titik terang pengungkapannya,” tegasnya.
Livand Breemer menegaskan, Kapolda Sulteng sebagai pimpinan tertinggi di jajaran Polda Sulteng diharapkan menjadikan atensi ke tiga kasus tersebut agar dapat ditagani dengan serius agar bisa segera mendapat titik terang penanganan kasusnya. (ron)
Editor : Rony Sandhi